Frankenstein45.Com – 22 Juni 2026 | Pemerintah Indonesia mencatat neraca perdagangan yang tetap berada di zona surplus selama tiga kuartal terakhir tahun 2024, menandakan arus logistik nasional terus beroperasi dengan baik meski dihadapkan pada sejumlah kendala.
Data resmi Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa nilai ekspor barang mencapai US$ 215 miliar, sementara impor tercatat US$ 185 miliar, menghasilkan surplus sebesar US$ 30 miliar. Angka ini menandakan peningkatan 5,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
| Tahun | Ekspor (USD Miliar) | Impor (USD Miliar) | Surplus (USD Miliar) |
|---|---|---|---|
| 2022 | 200 | 175 | 25 |
| 2023 | 208 | 180 | 28 |
| 2024 (Proyeksi) | 215 | 185 | 30 |
Meskipun angka surplus menunjukkan kinerja positif, sektor ekspor masih menghadapi tantangan signifikan:
- Kenaikan biaya bahan bakar dan tarif pelabuhan yang menambah beban logistik.
- Ketergantungan tinggi industri manufaktur terhadap bahan baku impor, terutama logam dan bahan kimia.
- Keterbatasan kapasitas infrastruktur di pelabuhan utama, yang dapat memicu penundaan pengiriman.
- Fluktuasi nilai tukar rupiah yang mempengaruhi daya saing harga di pasar internasional.
Pemerintah telah merespon dengan mempercepat program modernisasi pelabuhan, mengoptimalkan penggunaan teknologi digital dalam manajemen rantai pasok, serta memberikan insentif fiskal bagi perusahaan yang melakukan diversifikasi sumber bahan baku. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya logistik hingga 7% dalam dua tahun ke depan.
Para analis memperkirakan bahwa jika tren pertumbuhan ekspor tetap terjaga dan hambatan logistik dapat diminimalisir, neraca perdagangan Indonesia berpotensi mencatat surplus di atas US$ 35 miliar pada akhir 2025.




