Netanyahu Puji Pasukan, Sementara WNI Tertahan: Drama Global Sumud Flotilla Memanas di Laut Mediterania
Netanyahu Puji Pasukan, Sementara WNI Tertahan: Drama Global Sumud Flotilla Memanas di Laut Mediterania

Netanyahu Puji Pasukan, Sementara WNI Tertahan: Drama Global Sumud Flotilla Memanas di Laut Mediterania

Frankenstein45.Com – 20 Mei 2026 | Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memberikan pujian tinggi kepada komandan pasukan angkatan laut yang berhasil mencegat armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla pada 18 Mei 2026. Intersepsi yang terjadi di perairan internasional barat Siprus itu menimbulkan sorotan internasional, terutama setelah dilaporkan sembilan warga negara Indonesia (WNI) termasuk jurnalis ditahan oleh militer Israel.

Reaksi Netanyahu terhadap Intersepsi Global Sumud Flotilla

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin, Netanyahu menyebut misi Global Sumud Flotilla sebagai “skema berbahaya” yang berupaya menembus blokade Israel atas Gaza. Ia menegaskan bahwa tindakan cepat pasukan Israel merupakan pekerjaan luar biasa dan melampaui ekspektasi musuh. Menurut Al Arabiya News, Netanyahu menambahkan bahwa operasi tersebut berhasil menghentikan upaya penyelundupan bantuan yang diyakini akan memperkuat Hamas.

Kementerian Luar Negeri Israel juga mengutuk aksi flotilla tersebut sebagai provokasi yang melibatkan dua kelompok Turki, Mavi Marmara dan IHH, yang telah dicap sebagai organisasi teroris oleh Israel. Pernyataan resmi di akun X kementerian menegaskan bahwa tindakan militer Israel bersifat defensif dan sah.

Penahanan WNI dan Tuntutan Diplomasi Indonesia

LBH PB SEMMI dan organisasi kemanusiaan lain mengkritik keras penahanan WNI yang menjadi bagian dari konvoi Global Sumud. Sebanyak sembilan WNI, termasuk jurnalis, dilaporkan disandera di perairan Mediterania. Gurun Arisastra, ketua PB SEMMI, menilai penahanan tersebut sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang serius, mengingat kebebasan pers dan kebebasan bergerak terancam.

Gurun mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk menghubungi langsung Benjamin Netanyahu melalui jaringan Board of Peace yang dibentuk pada era pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Tujuannya adalah memperoleh jaminan pembebasan segera bagi WNI dan menekan Israel agar menghentikan praktik penahanan yang dianggap sewenang-wenang.

Isu Internasional: Iran dan Hadiah Bounty, serta Tuduhan ICC

Sementara itu, media internasional melaporkan Iran sedang menyiapkan hadiah sebesar Rp 1 triliun bagi siapa pun yang berhasil membunuh Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Rencana tersebut diungkapkan melalui laporan Iran Wire dan The Telegraph, menyebut adanya rancangan undang‑undang yang memberikan imbalan hingga 50 juta euro kepada pelaku.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, mengakui bahwa International Criminal Court (ICC) telah mengajukan permohonan surat perintah penangkapan terhadapnya. Smotrich menanggapi tuduhan tersebut sebagai “deklarasi perang” dan berjanji akan membalas dengan langkah‑langkah ofensif, termasuk rencana evakuasi paksa di Khan al‑Ahmar, Tepi Barat.

ICC sebelumnya telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan selama operasi militer di Gaza. Hal ini memperkeruh hubungan Israel dengan komunitas internasional dan menambah tekanan diplomatik.

Langkah Selanjutnya dan Tuntutan Malaysia

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, juga mengeluarkan seruan agar semua aktivis yang ditahan oleh Israel, termasuk 16 warga Malaysia, segera dibebaskan. Anwar menekankan bahwa penahanan tersebut melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional, serta menambah beban kemanusiaan bagi warga Palestina.

Berbagai negara sahabat, termasuk Malaysia, Indonesia, dan organisasi kemanusiaan, menuntut Israel membuka kembali akses bantuan ke Gaza dan menghentikan praktik penahanan serta blokade yang dianggap ilegal. Sementara itu, pihak Israel tetap menegaskan bahwa blokade tersebut diperlukan untuk mencegah penyelundupan senjata ke Hamas.

Dengan dinamika politik yang semakin kompleks, situasi di perairan Mediterania dan wilayah Gaza diperkirakan akan terus menjadi fokus perdebatan internasional. Upaya diplomatik, termasuk intervensi melalui Board of Peace dan tekanan dari lembaga internasional, menjadi kunci bagi penyelesaian yang dapat mengurangi ketegangan dan melindungi hak-hak warga sipil.

Ke depan, komunitas internasional diharapkan dapat menyeimbangkan antara keamanan regional dan perlindungan hak asasi manusia, sambil mencari solusi berkelanjutan bagi penderitaan penduduk Gaza serta memastikan keselamatan WNI dan aktivis kemanusiaan yang terlibat dalam misi bantuan.