Nobar Piala Dunia di Banda Aceh Satukan Warga, Dorong Penjualan UMKM
Nobar Piala Dunia di Banda Aceh Satukan Warga, Dorong Penjualan UMKM

Nobar Piala Dunia di Banda Aceh Satukan Warga, Dorong Penjualan UMKM

Frankenstein45.Com – 02 Juli 2026 | Antusiasme warga Aceh menyambut Piala Dunia 2026 memuncak lewat serangkaian nonton bareng (nobar) yang diselenggarakan di beberapa titik strategis kota Banda Aceh. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menjadi platform bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk meningkatkan penjualan dan memperluas jaringan pelanggan.

Acara utama berlangsung di Lapangan Merdeka, yang diubah menjadi arena hiburan terbuka dengan layar raksasa berukuran 12 meter. Lebih dari 3.000 penonton diperkirakan menyaksikan pertandingan secara bersamaan, sambil menikmati makanan dan minuman khas Aceh yang dijual oleh pedagang sekitar.

  • Lokasi: Lapangan Merdeka, Banda Aceh
  • Tanggal: 12–14 September 2024
  • Penonton diproyeksikan: 3.000–4.000 orang
  • Jumlah UMKM peserta: 45 usaha

Para pelaku UMKM melaporkan peningkatan penjualan yang signifikan selama tiga hari nobar. Rata-rata omzet harian naik sekitar 35 % dibandingkan dengan hari biasa. Berikut rangkuman penjualan beberapa kategori produk:

Kategori Penjualan Normal (Rp) Penjualan Nobar (Rp) Pertumbuhan
Makanan Ringan 1.200.000 1.850.000 +54 %
Minuman Dingin 800.000 1.200.000 +50 %
Souvenir Olahraga 450.000 720.000 +60 %

Wali kota Banda Aceh, Ahmad Muzakkir, menyatakan bahwa inisiatif nobar tidak hanya mempererat kebersamaan warga, tetapi juga menjadi strategi revitalisasi ekonomi pasca-pandemi. “Kami ingin memanfaatkan momentum olahraga internasional untuk menonjolkan produk lokal, sehingga UMKM dapat bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Selain aspek ekonomi, acara ini juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan. Foto-foto dan video live streaming dibagikan melalui platform Instagram, TikTok, dan Facebook dengan tagar #NobarBandaAceh dan #UMKMHebat, menghasilkan lebih dari 120.000 interaksi dalam 48 jam pertama.

Para pengunjung mengapresiasi suasana yang ramah dan keberagaman kuliner yang ditawarkan. “Saya bisa menonton pertandingan sambil mencicipi mie aceh dan kopi gayo, semua dalam satu tempat. Ini terasa seperti festival budaya sekaligus olahraga,” kata Rina, seorang mahasiswa Universitas Syiah Kuala.

Keberhasilan nobar ini diharapkan menjadi model bagi kota-kota lain di Aceh untuk mengintegrasikan acara olahraga berskala besar dengan pemberdayaan ekonomi mikro. Panitia berencana menggelar acara serupa pada turnamen Piala Dunia selanjutnya, dengan target peningkatan partisipasi UMKM hingga 30 %.