Frankenstein45.Com – 04 Mei 2026 | Profesor Teuku Rezasyah, pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, menilai bahwa proteksionisme kembali menjadi kecenderungan kuat dalam perekonomian global. Menurutnya, kebijakan yang menutup pasar domestik dan meningkatkan tarif impor telah menguat di berbagai negara, terutama setelah gejolak ekonomi pasca‑pandemi.
Ia menyoroti bahwa fenomena ini tidak lepas dari ketidakpastian rantai pasok, dorongan reshoring, serta keinginan pemerintah untuk melindungi industri strategis. Dalam konteks Asia‑Eropa, ASEM (Asia‑Europe Meeting) tahun ini menempatkan pembangunan domestik sebagai fokus utama agenda, mengingat banyak negara anggota berupaya memperkuat basis produksi dalam negeri.
- Penekanan pada industri manufaktur dan teknologi tinggi.
- Peningkatan investasi pada infrastruktur digital dan energi terbarukan.
- Peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pendidikan vokasi.
Rezasyah menambahkan, jika proteksionisme terus menguat, negara‑negara harus menyiapkan strategi diversifikasi pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal. Bagi Indonesia, hal ini berarti mempercepat reformasi regulasi, memperkuat kebijakan insentif bagi UMKM, serta memperluas jaringan perdagangan bilateral di luar blok tradisional.
Dengan ASEM yang menitikberatkan pada pembangunan domestik, diharapkan kolaborasi antara negara‑negara anggota dapat menghasilkan standar bersama untuk meningkatkan kualitas produk, mempercepat adopsi teknologi ramah lingkungan, dan menurunkan ketergantungan pada impor barang-barang kritis.




