Frankenstein45.Com – 13 Juni 2026 | Lembaga riset independen PEDAS baru-baru ini merilis laporan yang menilai kebijakan hilirisasi industri serta optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE) yang digalakkan pemerintah Presiden Prabowo Subianto sebagai pendorong utama kebangkitan nasionalisme ekonomi Indonesia.
Hilirisasi, yang mengacu pada peningkatan nilai tambah produk dalam negeri sebelum diekspor, menjadi fokus utama karena dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan meningkatkan pendapatan negara. PEDAS mencatat bahwa sejak diluncurkan, kebijakan ini telah menstimulus investasi di sektor pengolahan logam, petrokimia, serta agribisnis.
Sementara itu, program DHE bertujuan memaksimalkan penggunaan devisa yang masuk dari ekspor untuk pembiayaan proyek strategis, termasuk infrastruktur dan teknologi tinggi. Dengan menyalurkan devisa secara terarah, pemerintah berharap dapat menutup kesenjangan pembiayaan domestik serta menstabilkan nilai tukar rupiah.
Berikut rangkuman temuan utama dalam laporan PEDAS:
- Penurunan impor bahan mentah: Impor bahan baku turun 12% pada tahun pertama pelaksanaan hilirisasi.
- Peningkatan nilai tambah ekspor: Nilai tambah rata‑rata produk ekspor naik dari 15% menjadi 23%.
- Alokasi devisa DHE: Sekitar 45% devisa hasil ekspor dialokasikan untuk pembiayaan proyek infrastruktur kritis.
- Dampak pada lapangan kerja: Diperkirakan tercipta tambahan 350.000 pekerjaan di sektor manufaktur.
Data tersebut juga disajikan dalam tabel di bawah ini untuk memudahkan pembacaan:
| Indikator | 2023 | 2024 (Target) |
|---|---|---|
| Impor bahan mentah (juta ton) | 28,4 | 25,0 |
| Nilai tambah ekspor (%) | 15 | 23 |
| Devisa DHE yang dialokasikan (miliar USD) | 12,5 | 18,0 |
| Penambahan lapangan kerja (juta orang) | 0,28 | 0,35 |
Analisis PEDAS menegaskan bahwa kombinasi hilirisasi dan DHE tidak hanya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga menumbuhkan rasa kebanggaan pada produk dalam negeri. Kebijakan ini dianggap selaras dengan semangat “nasionalisme ekonomi” yang menjadi salah satu pilar visi Presiden Prabowo.
Namun, lembaga tersebut juga mengidentifikasi beberapa tantangan, antara lain kebutuhan akan peningkatan kapasitas teknologi, penyederhanaan regulasi investasi, serta penyiapan tenaga kerja terampil. Tanpa penanganan yang tepat, potensi pertumbuhan nilai tambah dapat terhambat.
Secara keseluruhan, laporan PEDAS memberikan gambaran optimis bahwa kebijakan hilirisasi dan DHE dapat menjadi fondasi yang kuat bagi Indonesia untuk bergerak menuju ekonomi yang lebih mandiri, berdaya saing global, dan berorientasi pada kepentingan nasional.




