Frankenstein45.Com – 28 Mei 2026 | Pada pekan ini, panitia pelaksanaan kurban di Kabupaten Sukoharjo memperkenalkan metode baru dalam mendistribusikan daging kurban kepada masyarakat. Alih-alih menggunakan kemasan plastik konvensional, daging dibungkus dalam wadah bambu tradisional yang dikenal dengan sebutan “besek“.
Penggunaan besek ini tidak hanya mengedepankan nilai kebudayaan lokal, tetapi juga mengurangi sampah plastik yang biasanya menumpuk setelah acara kurban selesai. Setiap besek memiliki ukuran standar yang memungkinkan penataan daging secara rapi dan higienis, sehingga memudahkan penerima dalam menyimpan atau mengolah daging di rumah.
- Ramah lingkungan: Bambu merupakan bahan yang dapat terurai secara alami dalam waktu singkat, mengurangi beban pada tempat pembuangan akhir.
- Mendukung ekonomi lokal: Produsen besek di Sukoharjo mendapatkan peluang pasar baru, meningkatkan pendapatan bagi pengrajin bambu.
- Keamanan pangan: Besek bambu yang diproses dengan standar kebersihan menjaga kualitas daging tetap terjaga selama distribusi.
Panitia menjelaskan bahwa total 5.000 besek telah disiapkan untuk menampung sekitar 25.000 kilogram daging kurban. Distribusi dilakukan secara terkoordinasi dengan masjid, panti asuhan, dan rumah warga yang terdaftar sebagai penerima.
Respon masyarakat pun positif. Banyak yang mengapresiasi upaya mengurangi penggunaan plastik dan menyatakan keinginan agar praktek ini dijadikan standar pada acara keagamaan selanjutnya. Beberapa tokoh adat setempat juga menyoroti pentingnya melestarikan tradisi penggunaan bambu sebagai bagian dari warisan budaya.
Kedepannya, panitia berencana memperluas penggunaan besek tidak hanya pada kurban, melainkan pada berbagai kegiatan komunitas lain, seperti penyuluhan kesehatan dan program bantuan makanan. Dengan demikian, diharapkan dampak lingkungan yang positif dapat dirasakan secara berkelanjutan.




