Pemkot Yogya Lakukan Sweep Total Daycare Little Aresha, 12 Anak Ditemukan Penyimpangan Perkembangan dan 18 Masalah Gizi
Pemkot Yogya Lakukan Sweep Total Daycare Little Aresha, 12 Anak Ditemukan Penyimpangan Perkembangan dan 18 Masalah Gizi

Pemkot Yogya Lakukan Sweep Total Daycare Little Aresha, 12 Anak Ditemukan Penyimpangan Perkembangan dan 18 Masalah Gizi

Frankenstein45.Com – 20 Mei 2026 | Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot Yogya) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengumumkan tindakan tegas setelah temuan mengkhawatirkan di daycare Little Aresha. Hasil skrining terhadap 153 anak yang pernah dititipkan di fasilitas tersebut mengungkap adanya 12 anak dengan penyimpangan perkembangan dan 18 anak yang mengalami masalah gizi ringan.

Data skrining perkembangan, yang dilakukan oleh psikolog klinis sesuai pedoman Stimulasi, Deteksi, Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), menunjukkan 12 anak berada dalam kategori penyimpangan, 19 anak berada pada status meragukan, dan sisanya 122 anak menunjukkan perkembangan normal. Penyimpangan yang teridentifikasi meliputi keterlambatan bicara (speech delay), gejala spektrum autisme, serta hiperaktivitas yang mengarah pada diagnosis ADHD.

Sementara itu, skrining pertumbuhan yang dipimpin oleh nutrisionis melalui pengukuran antropometri menemukan 18 anak dengan tanda-tanda kekurangan gizi pada tahap awal, terutama berat badan kurang dan gizi kurang. Meskipun tidak masuk kategori gizi buruk, kondisi ini tetap memerlukan penanganan cepat untuk mencegah progresi menjadi masalah yang lebih serius.

Semua anak yang teridentifikasi – baik yang mengalami penyimpangan perkembangan maupun yang memiliki masalah gizi – telah dirujuk ke puskesmas terdekat untuk evaluasi komprehensif. Tim asuhan gizi puskesmas yang terdiri dari dokter, perawat, nutrisionis, dan psikolog klinis bertugas melakukan verifikasi ulang serta merancang intervensi yang tepat. Dari 18 anak yang dirujuk untuk masalah gizi, hanya 9 yang sudah hadir, sementara sisanya masih dalam proses penjadwalan. Hal yang sama terjadi pada 31 anak (12 penyimpangan + 19 meragukan) yang dirujuk untuk pemeriksaan perkembangan, di mana hanya 9 anak yang sudah dapat diperiksa.

Langkah Sweeping dan Pendampingan Psikologis

Menanggapi temuan tersebut, Pemkot Yogya berencana melakukan sweeping total terhadap seluruh operasi daycare di wilayah kota. Kebijakan ini mencakup penutupan sementara fasilitas yang belum memenuhi standar keamanan dan kualitas, serta audit menyeluruh terhadap prosedur pengasuhan anak. Selain itu, Dinkes akan menyiapkan program pendampingan psikologis bagi anak‑anak yang teridentifikasi mengalami gangguan perkembangan. Program tersebut akan melibatkan psikolog klinis, terapis wicara, serta konselor keluarga, dengan tujuan memberikan intervensi dini yang dapat meningkatkan peluang pemulihan.

“Kami tidak hanya menutup fasilitas yang bermasalah, tetapi juga memastikan bahwa anak‑anak yang terdampak mendapatkan layanan rehabilitatif yang memadai,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Yogyakarta, Aan Iswanti. “Pendekatan holistik antara kesehatan fisik dan mental menjadi kunci dalam menanggulangi dampak jangka panjang.”

Para ahli menilai bahwa penanganan dini sangat penting. Menurut seorang pakar perkembangan anak, intervensi pada usia balita dapat mengurangi tingkat keparahan gangguan belajar dan perilaku di kemudian hari. Oleh karena itu, rujukan cepat ke puskesmas dan pelaksanaan program terapi merupakan langkah yang tepat.

Selain upaya pemerintah, organisasi non‑pemerintah (LSM) yang bergerak di bidang perlindungan anak juga siap memberikan dukungan. Beberapa LSM telah menyatakan kesediaannya untuk menyediakan tenaga psikolog dan materi edukasi bagi orang tua, serta membantu pemantauan perkembangan anak secara berkala.

Secara keseluruhan, kasus Little Aresha menjadi peringatan bagi seluruh penyedia layanan penitipan anak di Yogyakarta. Pemerintah kota bertekad menegakkan standar kualitas, memperkuat mekanisme pengawasan, dan memastikan setiap anak mendapatkan lingkungan tumbuh kembang yang aman serta mendukung. Dengan sinergi antara Dinkes, puskesmas, LSM, dan keluarga, diharapkan dampak negatif dapat diminimalisir dan generasi masa depan Yogyakarta dapat berkembang optimal.