Frankenstein45.Com – 18 Juni 2026 | Peneliti dari Program Kolaborasi untuk Pengetahuan, Inovasi, dan Kemitraan (KONEKSI) mengungkap bahwa dampak perubahan iklim semakin menekan kondisi ekonomi kelompok rentan di Indonesia. Studi yang dirilis pada minggu ini menyoroti bahwa peningkatan frekuensi bencana alam, seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas, memperparah ketimpangan pendapatan dan mempersempit peluang kerja bagi masyarakat yang sudah berada di pinggiran.
- Peningkatan biaya produksi akibat cuaca ekstrem yang merusak infrastruktur pertanian dan perikanan.
- Penurunan produktivitas pada sektor informal, dimana mayoritas pekerja tidak memiliki perlindungan sosial atau asuransi kebencanaan.
- Migrasi paksa ke daerah perkotaan, yang menambah beban pada layanan publik dan menurunkan standar hidup.
Peneliti menekankan bahwa kelompok rentan—seperti petani kecil, nelayan tradisional, pekerja harian, serta penduduk di daerah rawan bencana—merupakan yang paling terdampak. Data menunjukkan bahwa pendapatan rata‑rata mereka menurun hingga 20‑30 persen dalam lima tahun terakhir, sementara biaya hidup meningkat secara signifikan.
Untuk mengurangi dampak tersebut, KONEKSI merekomendasikan serangkaian kebijakan, antara lain:
- Penguatan sistem peringatan dini dan mitigasi bencana yang terintegrasi dengan komunitas lokal.
- Penyediaan bantuan keuangan berbasis risiko untuk petani dan nelayan, termasuk asuransi pertanian yang terjangkau.
- Peningkatan akses pendidikan dan pelatihan bagi pekerja informal agar dapat beralih ke pekerjaan yang lebih tahan iklim.
- Investasi pada infrastruktur hijau, seperti irigasi berbasis teknologi dan penanaman kembali hutan mangrove.
Peneliti juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Tanpa koordinasi yang kuat, upaya adaptasi akan terhambat dan kesenjangan ekonomi dapat semakin melebar.
Dengan memperhatikan temuan ini, diharapkan pembuat kebijakan dapat merumuskan strategi yang lebih inklusif, sehingga kelompok rentan tidak lagi menjadi korban utama perubahan iklim, melainkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.




