Frankenstein45.Com – 12 Mei 2026 | Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa perempuan berada pada posisi paling rentan ketika menghadapi krisis iklim, terutama yang dipicu oleh kelangkaan air. Faktor sosial, ekonomi, dan budaya membuat beban adaptasi lebih berat bagi mereka.
Berbagai alasan membuat perempuan lebih terpapar dampak tersebut:
- Peran tradisional sebagai pengelola rumah tangga yang bergantung pada sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
- Kurangnya akses ke teknologi pertanian modern yang dapat mengurangi konsumsi air.
- Ketergantungan pada sektor pertanian subsisten yang sangat sensitif terhadap perubahan curah hujan.
- Terbatasnya kesempatan pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan mitigasi iklim.
Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan dalam angka perempuan yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Berikut gambaran perbandingan antara kelompok gender:
| Kelompok | Persentase mengalami kesulitan akses air (%) |
|---|---|
| Perempuan | 68 |
| Laki‑laki | 45 |
| Komunitas miskin | 72 |
Akibat kelangkaan air, perempuan sering harus menempuh jarak jauh untuk mencari sumber air, yang mengurangi waktu mereka untuk kegiatan produktif atau pendidikan. Selain itu, beban fisik dan risiko kesehatan meningkat, terutama pada masa kehamilan dan menyusui.
Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan dan lembaga terkait telah merencanakan beberapa langkah strategis, antara lain:
- Peningkatan infrastruktur penyimpanan air, seperti bendungan mikro dan sumur resapan, yang dikelola oleh komunitas perempuan.
- Penyediaan pelatihan agrikultur ramah iklim, termasuk teknik irigasi tetes dan penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan.
- Pemberdayaan ekonomi melalui program kredit mikro khusus bagi perempuan petani.
- Peningkatan akses informasi cuaca dan peringatan dini melalui aplikasi lokal yang mudah dipahami.
Implementasi kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi beban perempuan sekaligus meningkatkan ketahanan air di wilayah yang paling terdampak. Kolaborasi antara pemerintah, LSM, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan.
Dengan menempatkan perempuan pada pusat strategi adaptasi, Indonesia dapat memperkuat ketahanan iklim secara keseluruhan, mengurangi kesenjangan gender, dan memastikan akses air bersih bagi semua lapisan masyarakat.




