Frankenstein45.Com – 16 Mei 2026 | Presiden calon Prabowo Subianto baru-baru ini menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah dengan nada yang dianggap terlalu santai. Pernyataan tersebut menuai kritik tajam dari sejumlah pengamat ekonomi, termasuk Celios dan Bhima Yudhistira.
Celios menilai bahwa sikap tersebut dapat menurunkan kepercayaan pasar. Menurutnya, ketika pemimpin politik tidak memberi sinyal keprihatinan atas depresiasi mata uang, investor dan pelaku bisnis cenderung meragukan komitmen pemerintah dalam menstabilkan nilai tukar.
Bhima Yudhistira menambahkan bahwa komunikasi yang kurang tegas berpotensi menimbulkan kepanikan di kalangan publik. Ia menekankan bahwa rasa aman konsumen dan pelaku usaha sangat dipengaruhi oleh persepsi stabilitas ekonomi.
Dampak nyata yang diantisipasi meliputi:
- Kenaikan harga barang kebutuhan pokok karena biaya impor naik.
- Penurunan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah.
- Volatilitas pasar saham dan nilai tukar yang lebih tinggi.
- Penarikan investasi asing yang mengandalkan kestabilan mata uang.
Para analis memperkirakan bahwa jika tren pelemahan rupiah berlanjut tanpa kebijakan penanggulangan yang jelas, inflasi dapat melaju di atas target bank sentral, memperburuk beban hidup rakyat.
Sejumlah pihak menuntut agar Prabowo, sebagai figur politik berpengaruh, segera menyampaikan kebijakan konkret atau setidaknya memperkuat retorika yang menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga nilai tukar. Tanpa langkah tersebut, kepercayaan pasar dan harapan publik akan terus tergerus.




