Frankenstein45.Com – 18 Mei 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menanggapi penurunan nilai tukar rupiah dengan nada yang terkesan tenang. Dalam sebuah pertemuan terbuka, ia menyatakan bahwa fluktuasi nilai tukar merupakan hal yang wajar dalam ekonomi global dan tidak perlu menimbulkan kepanikan.
Namun, pernyataan tersebut menuai respons kritis dari sejumlah pengamat ekonomi. Mereka menekankan bahwa pelemahan rupiah dapat memperburuk kondisi pasar tenaga kerja dan meningkatkan beban hidup masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah.
Berikut beberapa poin utama yang disorot oleh para pakar:
- Peningkatan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK): Nilai tukar yang lemah menaikkan biaya impor bahan baku bagi perusahaan manufaktur, yang pada gilirannya dapat memaksa perusahaan mengurangi tenaga kerja untuk menjaga profitabilitas.
- Lonjakan inflasi barang kebutuhan dasar: Harga pangan dan bahan pokok yang sebagian besar diimpor dapat naik, menurunkan daya beli rumah tangga.
- Kenaikan tingkat kemiskinan: Kombinasi PHK dan inflasi dapat mendorong lebih banyak keluarga masuk dalam kategori miskin, menguji program bantuan sosial pemerintah.
- Tekanan pada neraca pembayaran: Defisit transaksi berjalan dapat memburuk bila impor terus meningkat sementara ekspor tidak cukup mengimbangi.
Pengamat juga menekankan pentingnya kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi. Mereka merekomendasikan langkah-langkah seperti memperkuat cadangan devisa, meningkatkan efisiensi rantai pasok dalam negeri, serta memperluas program pelatihan kerja untuk menyiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan struktural.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap bersifat independen dan akan tetap mengutamakan stabilitas harga. Sementara itu, Kementerian Keuangan berupaya menstabilkan nilai tukar melalui intervensi pasar bila diperlukan.
Dengan situasi yang masih dinamis, para ahli memperingatkan bahwa ketegangan ekonomi tidak boleh diabaikan. Mereka menyerukan pemantauan terus‑menerus terhadap indikator inflasi, pengangguran, dan kemiskinan untuk mengantisipasi dampak jangka panjang dari melemahnya rupiah.




