Psikiater: Stigma Patriarki Membuat Korban Kekerasan Seksual Pilih Diam
Psikiater: Stigma Patriarki Membuat Korban Kekerasan Seksual Pilih Diam

Psikiater: Stigma Patriarki Membuat Korban Kekerasan Seksual Pilih Diam

Frankenstein45.Com – 22 April 2026 | Stigma yang berakar pada norma patriarki masih menjadi penghalang utama bagi korban kekerasan seksual untuk melaporkan atau mengungkapkan pengalaman mereka. Dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, seorang psikiater terkemuka, menegaskan bahwa rasa takut akan penilaian masyarakat, rasa bersalah, dan tekanan untuk mempertahankan citra “baik” seringkali membuat korban memilih untuk berdiam diri.

  • Rasa malu dan takut disalahkan: Korban sering kali dipandang sebagai penyebab terjadinya pelecehan, bukan sebagai pihak yang menjadi sasaran.
  • Ketakutan akan konsekuensi sosial: Pengungkapan dapat berujung pada stigma tambahan, seperti dianggap “kurang sopan” atau “tidak terhormat”.
  • Kurangnya dukungan institusional: Lembaga penegak hukum dan layanan kesehatan mental belum sepenuhnya responsif terhadap kebutuhan khusus korban.

Data terbaru menunjukkan bahwa hanya sekitar 30% korban kekerasan seksual di Indonesia yang melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak berwajib. Angka ini mencerminkan betapa kuatnya pengaruh norma patriarki dalam menahan suara korban.

Untuk mengurangi dampak stigma, Dr. Elvine menyarankan langkah-langkah berikut:

  1. Edukasikan masyarakat tentang hak-hak seksual dan pentingnya persetujuan.
  2. Perkuat layanan konseling yang sensitif gender dan trauma.
  3. Bangun kebijakan yang melindungi korban dari retaliasi sosial.
  4. Libatkan tokoh agama dan komunitas dalam kampanye anti‑stigma.

Selain itu, penting bagi media dan platform digital untuk menyajikan laporan yang tidak bersifat sensationalist, melainkan fokus pada pemulihan korban dan pencegahan kekerasan. Dengan mengubah narasi publik, diharapkan korban dapat merasa lebih aman untuk berbicara dan mencari bantuan.

Dr. Elvine menutup dengan menekankan bahwa mengatasi stigma patriarki bukan hanya tugas individu, melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan seluruh lapisan masyarakat.