Purbaya: Kita Tidak Sedang Menuju Kondisi Seperti 1997-1998
Purbaya: Kita Tidak Sedang Menuju Kondisi Seperti 1997-1998

Purbaya: Kita Tidak Sedang Menuju Kondisi Seperti 1997-1998

Frankenstein45.Com – 07 Juni 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru-baru ini menunjukkan penurunan signifikan, sementara nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar. Di tengah gejolak tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Purbaya) menegaskan bahwa Indonesia tidak berada pada jalur yang sama dengan krisis ekonomi 1997-1998.

Latar Belakang Krisis 1997-1998

Pada akhir 1990-an, Indonesia mengalami devaluasi tajam rupiah, penurunan drastis IHSG, dan defisit fiskal yang meluas. Cadangan devisa yang terbatas serta ketergantungan pada pinjaman jangka pendek memperparah situasi, memicu krisis likuiditas yang meluas ke sektor perbankan.

Kondisi Pasar Saat Ini

Sejumlah indikator menunjukkan tekanan, namun intensitasnya jauh lebih terkendali. Dalam seminggu terakhir IHSG turun sekitar 5%, dan rupiah melemah 2‑3% terhadap dolar. Inflasi tetap berada di sekitar target 3‑4%, sementara cadangan devisa mencapai lebih dari US$130 miliar, cukup untuk menutupi lebih dari 6 bulan impor.

Langkah Kebijakan Pemerintah

Menkeu menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter. Di sisi fiskal, pemerintah menyesuaikan belanja dengan prioritas pertumbuhan produktif, meningkatkan penerimaan pajak, dan menyalurkan stimulus terfokus pada sektor UMKM. Di sisi moneter, Bank Indonesia menyesuaikan suku bunga secara hati-hati serta melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menahan volatilitas.

Perbandingan Indikator Kunci

Indikator 1997 2024
Nilai Tukar (IDR/USD) ~2.300 ~15.600
Defisit Fiskal (% GDP) ~7‑8 ~5,5
Neraca Current Account (% GDP) Negatif >2 Positif ~1,2
Cadangan Devisa (US$ miliar) ~5 ~130
IHSG (poin) ~200 (awal krisis) ~6.200

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa meski ada tekanan eksternal, fondasi ekonomi kini jauh lebih kuat dibandingkan tiga dekade lalu.

Analisis Risiko

Dengan mekanisme koordinasi kebijakan yang lebih matang, likuiditas pasar yang cukup, dan cadangan devisa yang melimpah, risiko terulangnya krisis sistemik sangat kecil. Pemerintah tetap memantau faktor eksternal seperti kebijakan moneter global dan fluktuasi komoditas, namun komitmen menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan tetap menjadi prioritas utama.

Secara keseluruhan, meskipun pasar mengalami koreksi, Indonesia berada pada posisi yang jauh lebih stabil dan tidak menunjukkan tanda‑tanda krisis seperti yang terjadi pada 1997‑1998.