Frankenstein45.Com – 05 April 2026 | Timnas Italia kembali menorehkan sejarah kelam setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2026, mengakhiri rangkaian kegagalan tiga edisi berturut‑turut (2018, 2022, dan 2026). Kekalahan dramatis melawan Bosnia & Herzegovina dalam babak playoff menurunkan semangat tifosi Italia sekaligus memaksa pelatih sekaligus mantan gelandang keras, Gennaro Gattuso, mengundurkan diri setelah hanya sepuluh bulan memimpin tim.
Gagalnya Italia di Playoff
Italia masuk ke fase playoff setelah menempati posisi kedua di grup kualifikasi Piala Dunia 2026, namun harus bertarung dalam satu leg tunggal melawan Bosnia & Herzegovina. Pertandingan berakhir dengan hasil yang mengecewakan bagi Azzurri, mengirim mereka pulang tanpa tiket ke turnamen terbesar dunia. Kegagalan ini memicu kritik luas terhadap strategi Gattuso, terutama dalam pemilihan formasi 3‑5‑2 yang selama ini menjadi ciri khas kepelatihannya.
Era Gattuso dan Pilihan Pemain Utama
Selama delapan pertandingan yang dipimpin Gattuso, enam pemain menjadi andalan utama berdasarkan total menit bermain. Kiper berpengalaman Gianluigi Donnarumma menjadi figur sentral di gawang, mencatat 660 menit termasuk 20 menit tambahan pada laga playoff. Donnarumma juga memegang kaptenitas tim, menambah beban kepemimpinan di tengah krisis.
Di lini tengah, Sandro Tonari dari Newcastle United menempati peran pengatur tempo dan penyerang sekunder, menorehkan dua gol serta satu assist dalam 639 menit. Nicolo Barella dari Inter Milan berfokus pada distribusi bola, namun kontribusi statistiknya terbatas pada satu assist dalam 616 menit. Pada sisi sayap kiri, Federico Dimarco, juga dari Inter, menambah nilai serangan dengan empat assist dalam 612 menit.
Di lini belakang, Gianluca Mancini dari AS Roma menjadi bek tengah paling sering dipanggil, menampilkan 570 menit di enam laga, mengungguli pesaing seperti Alessandro Bastoni dan Giovanni Di Lorenzo.
Mateo Retegui: Penyerang Produktif di Tengah Keterpurukan
Di antara para pemain yang diandalkan, Mateo Retegui muncul sebagai sorotan utama. Penyerang tengah yang mengisi posisi utama dalam skema 3‑5‑2 mencatatkan rekor produktivitas tertinggi dengan lima gol dan lima assist dalam delapan pertandingan (total 569 menit). Semua kontribusi golnya terjadi pada fase grup kualifikasi, sementara pada laga playoff ia tidak menambah angka gol maupun assist.
Statistik tersebut menegaskan peran Retegui sebagai ujung tombak serangan Italia selama masa Gattuso. Kemampuannya dalam menyelesaikan peluang serta menciptakan kesempatan bagi rekan setim membuatnya menjadi pilihan tak tergantikan di lini depan, meskipun tim secara keseluruhan gagal mengamankan tiket ke Qatar.
Dampak Kegagalan dan Prospek Masa Depan
Kegagalan berulang Italia menimbulkan pertanyaan mendasar tentang arah taktik dan manajemen tim nasional. Pengunduran diri Gattuso membuka peluang bagi pelatih baru untuk merombak struktur tim, memperbaiki kelemahan pada fase penyerangan di laga krusial, serta menemukan cara memaksimalkan potensi pemain seperti Retegui.
Jika Retegui mampu mempertahankan rasio gol‑assist yang impresif, ia dapat menjadi pionir dalam upaya Italia kembali ke panggung dunia. Namun, ia memerlukan dukungan sistematis dari gelandang kreatif dan lini belakang yang lebih solid, agar peluang serangan tidak terhambat pada tahap akhir kompetisi.
Federazione Italiana Giuoco Calcio (FIGC) diperkirakan akan melakukan evaluasi menyeluruh, tidak hanya pada taktik, tetapi juga pada proses seleksi pemain dan pengembangan generasi muda. Harapan terbesar tetap pada pembentukan skuad yang dapat bersaing di kualifikasi berikutnya, mengembalikan kebanggaan Azzurri.
Secara keseluruhan, meski Italia harus menelan kepahitan tidak lolos ke Piala Dunia 2026, kinerja individu seperti Mateo Retegui memberikan secercah harapan. Keberhasilan Retegui di lapangan menunjukkan bahwa talenta masih ada; tantangannya kini berada pada kemampuan manajemen tim untuk mengintegrasikan talenta tersebut ke dalam strategi yang konsisten dan efektif.




