Frankenstein45.Com – 05 Juni 2026 | Di balik gemerlap kawasan barat Surabaya yang dikenal sebagai pusat ekonomi dan gaya hidup urban, muncul sebuah paradoks: ruang publik yang seharusnya mendukung tumbuh kembang anak justru terlihat retak dan minim fasilitas. Pemerintah kota dan masyarakat kini bersatu menyoroti kondisi ini, mengingat pentingnya lingkungan yang ramah anak untuk masa depan kota.
Area yang menjadi sorotan meliputi taman kecil, trotoar, dan area bermain di sekitar kompleks perkantoran serta pusat perbelanjaan. Meskipun area tersebut berada di zona strategis, beberapa masalah utama teridentifikasi:
- Kurangnya ruang hijau terbuka yang aman untuk bermain.
- Trotoar yang sempit dan tidak rata, menyulitkan mobilitas anak dengan stroller.
- Fasilitas kebersihan yang terbatas, sehingga menurunkan kenyamanan.
- Pencahayaan yang tidak memadai pada sore hari, meningkatkan risiko kecelakaan.
Data survei yang dilakukan oleh Dinas Perencanaan Kota Surabaya pada kuartal pertama 2024 mengungkapkan bahwa hanya 23% dari total ruang terbuka publik di wilayah barat yang memenuhi standar ramah anak yang ditetapkan Kementerian PUPR. Sementara itu, 68% responden warga menyatakan keprihatinan atas kurangnya area bermain yang aman.
Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, menanggapi temuan tersebut dalam rapat koordinasi pada 12 Mei 2024. Ia menegaskan bahwa revitalisasi ruang publik menjadi prioritas dalam Rencana Aksi Kota Layak Anak (KLA). “Kita harus memastikan setiap sudut kota memberikan ruang bernapas bagi generasi berikutnya,” ujarnya.
Beberapa inisiatif yang telah direncanakan meliputi:
- Peningkatan kualitas trotoar dengan penambahan jalur khusus pejalan kaki dan stroller.
- Pembangunan taman mini berukuran 200 meter persegi di setiap kelurahan, lengkap dengan peralatan bermain ramah lingkungan.
- Implementasi program “Cahaya Aman” yang memasang lampu LED hemat energi di area publik.
- Kampanye kebersihan bersama komunitas lokal untuk menjaga kebersihan taman dan area bermain.
Selain upaya pemerintah, LSM dan komunitas warga juga berperan aktif. Kelompok “Surabaya Kids Friendly” mengorganisir kegiatan bersih-bersih dan workshop edukasi tentang pentingnya ruang terbuka bagi anak. Mereka berharap dapat mendorong partisipasi lebih luas dari sektor swasta untuk mendanai proyek-proyek kecil namun berdampak signifikan.
Meski tantangan masih besar, sinergi antara pemerintah, LSM, dan warga menunjukkan langkah positif menuju kota yang lebih inklusif. Dengan perencanaan yang matang dan komitmen bersama, harapan untuk menutup “retakan” ruang publik di Surabaya menjadi semakin realistis.




