Frankenstein45.Com – 22 Juni 2026 | Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menegaskan agenda dedolarisasi pada pertemuan luar biasa yang dihadiri oleh sebelas pemimpin negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia. Pertemuan tersebut berlangsung di Moskow pada tanggal 21 Juni 2024, dengan tujuan utama membahas langkah-langkah bersama untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat dalam perdagangan internasional.
Dalam sambutannya, Putin menekankan bahwa “dolar telah menjadi alat dominasi ekonomi Barat yang mengancam kedaulatan negara‑negara”. Ia mengajak negara‑negara ASEAN untuk bersama‑sama mencari alternatif mata uang cadangan dan memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral.
- Indonesia – Presiden Joko Widodo
- Malaysia – Perdana Menteri Anwar Ibrahim
- Singapura – Perdana Menteri Lee Hsien Loong
- Thailand – Perdana Menteri Srettha Thavisin
- Filipina – Presiden Ferdinand Marcos Jr.
- Vietnam – Presiden Vô Văn Thương
- Myanmar – Menteri Luar Negeri (representatif)
- Kamboja – Perdana Menteri Hun Manet
- Laos – Presiden Thongloun Sisoulith
- Brunei – Sultan Hassanal Bolkiah
- Timor Leste – Presiden José Ramos–Horta
Para pemimpin ASEAN menanggapi seruan Putin dengan beragam sikap. Indonesia menekankan pentingnya stabilitas sistem keuangan global, sementara Malaysia dan Singapura mengakui kebutuhan diversifikasi mata uang, namun menyoroti risiko transisi yang harus dikelola secara hati‑hati.
| Negara | Pernyataan Utama |
|---|---|
| Indonesia | “Kita harus menjaga stabilitas, namun terbuka pada mekanisme yang memperkuat kedaulatan ekonomi.” |
| Malaysia | “Diversifikasi penting, tetapi harus selaras dengan kebijakan moneter masing‑masing.” |
| Singapura | “Penggunaan mata uang lokal dapat ditingkatkan, namun dolar tetap peran penting dalam perdagangan global.” |
Selain diskusi mata uang, pertemuan juga membahas kerjasama di bidang energi, infrastruktur, dan teknologi. Putin menawarkan kerjasama energi Rusia, termasuk pasokan gas alam melalui jalur darat dan laut, serta proyek infrastruktur berskala besar yang dapat melibatkan perusahaan-perusahaan ASEAN.
Para pengamat menilai langkah dedolarisasi ini sebagai upaya Rusia untuk memperluas pengaruh ekonomi di Asia Tenggara, sekaligus mengurangi tekanan sanksi Barat. Jika berhasil, perubahan struktural dalam sistem pembayaran internasional dapat memicu pergeseran aliran investasi dan perdagangan ke arah yang lebih multipolar.
Namun, tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Sistem keuangan global masih sangat bergantung pada dolar, dan banyak negara ASEAN masih mengandalkan dolar untuk cadangan devisa serta perdagangan komoditas utama. Implementasi kebijakan dedolarisasi memerlukan koordinasi regulasi, infrastruktur pembayaran, serta kepercayaan pasar yang belum sepenuhnya terbentuk.
Sejauh ini, belum ada keputusan konkret mengenai penggantian dolar dengan mata uang tertentu. Namun, pernyataan bersama yang dihasilkan pada akhir pertemuan menegaskan komitmen untuk membentuk “kelompok kerja dedolarisasi ASEAN–Rusia” yang akan menyusun roadmap jangka menengah.
Perkembangan ini menambah dinamika geopolitik di kawasan, di mana China, Jepang, dan Amerika Serikat juga bersaing mempengaruhi kebijakan moneter dan perdagangan regional. Bagaimana ASEAN menanggapi tawaran Rusia akan menjadi indikator penting bagi arah sistem keuangan global dalam beberapa tahun ke depan.




