Frankenstein45.Com – 12 Mei 2026 | Rupiah ditutup melemah hingga 17.529 rupiah per dolar Amerika Serikat, menandai penurunan signifikan di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran.
Penurunan ini terjadi setelah pasar global terpengaruh oleh laporan potensi konflik militer di kawasan Teluk Persia, yang memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas mata uang emerging market, termasuk Indonesia.
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan melakukan intervensi pasar mulai besok. Menteri Keuangan, Purbaya, menyatakan kesiapan pemerintah untuk bekerja sama dengan BI demi menahan arus keluar modal asing dan menjaga kekuatan rupiah.
Beberapa faktor yang memperparah tekanan pada rupiah antara lain:
- Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang meningkatkan risiko geopolitik global.
- Penurunan harga komoditas ekspor utama Indonesia, terutama batubara dan kelapa sawit, yang mengurangi penerimaan devisa.
- Aliran modal asing yang sensitif terhadap perubahan sentimen pasar, mengalir keluar ke aset yang dianggap lebih aman.
BI diperkirakan akan menggunakan cadangan devisa untuk melakukan penjualan dolar dan pembelian rupiah, serta menyesuaikan suku bunga jika diperlukan.
Pengamat ekonomi menilai bahwa intervensi ini dapat menstabilkan nilai tukar dalam jangka pendek, namun tekanan jangka panjang tetap ada jika ketegangan geopolitik tidak mereda.
Investor disarankan untuk memantau perkembangan situasi di Timur Tengah serta kebijakan moneter BI dalam beberapa hari ke depan.




