Frankenstein45.Com – 12 Mei 2026 | Menpan dan Kementerian Ketenagakerjaan (Menaker) kembali menegaskan pentingnya budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam dunia usaha modern. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menuturkan bahwa penguatan kompetensi sumber daya manusia di bidang K3 menjadi salah satu upaya strategis untuk menekan risiko kecelakaan kerja sekaligus meningkatkan produktivitas.
Dalam rangkaian uji kompetensi yang melibatkan ribuan calon ahli K3, pemerintah menargetkan peningkatan kualitas tenaga ahli yang dapat menyebarluaskan praktik K3 yang baik di seluruh sektor industri. Ujian tersebut mencakup materi-materi penting seperti identifikasi bahaya, penilaian risiko, penerapan prosedur keselamatan, serta penanganan keadaan darurat.
Berikut beberapa poin utama yang disorot oleh Menaker Yassierli:
- Budaya K3 harus diintegrasikan ke dalam setiap proses kerja, bukan sekadar formalitas.
- Pengembangan kompetensi ahli K3 harus berkelanjutan melalui pelatihan, sertifikasi, dan evaluasi rutin.
- Peningkatan kesadaran akan pentingnya K3 dapat menurunkan angka kecelakaan kerja serta meningkatkan efisiensi operasional.
- Kerjasama antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan menjadi kunci sukses implementasi budaya K3.
Menaker menekankan bahwa K3 bukan hanya tanggung jawab departemen terkait, melainkan menjadi bagian integral dari budaya perusahaan. Dengan menumbuhkan pola pikir keselamatan sejak awal, diharapkan perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, produktif, dan berkelanjutan.
Uji kompetensi ini diharapkan menghasilkan tenaga ahli yang siap membantu perusahaan mengidentifikasi risiko, merancang sistem manajemen K3, dan memberikan pelatihan kepada pekerja. Hasilnya diharapkan dapat menurunkan tingkat kecelakaan kerja secara signifikan serta meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global.




