Frankenstein45.Com – 24 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah pada Rabu pagi mengalami penurunan 72 poin atau sekitar 0,40 persen, mencatat Rp17.931 per dolar AS. Penurunan ini merupakan reaksi pasar terhadap spekulasi bahwa Federal Reserve (Fed) Amerika Serikat kemungkinan akan mempertahankan atau bahkan meningkatkan suku bunga lebih lama dari yang diperkirakan.
Investor memperhatikan sinyal-sinyal terbaru dari Fed yang menekankan perlunya kebijakan moneter yang ketat untuk menahan inflasi. Kenaikan ekspektasi suku bunga mengakibatkan aliran modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menekan nilai tukar mata uang lokal.
- Rupiah turun 72 poin menjadi Rp17.931/USD.
- Penurunan sebesar 0,40% dibandingkan penutupan sebelumnya.
- Fed diperkirakan akan menahan suku bunga pada level 5,25%-5,50% atau lebih tinggi.
Bank Indonesia (BI) menanggapi melemahnya rupiah dengan menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar bila diperlukan. Namun, BI juga mencatat bahwa kebijakan fiskal dan kondisi eksternal yang masih volatil dapat memperkuat tekanan pada rupiah.
Para analis menilai bahwa selama Fed belum menunjukkan sinyal pelonggaran kebijakan, rupiah akan terus berada di bawah tekanan. Mereka menyarankan pelaku pasar untuk memantau data inflasi Amerika serta pernyataan resmi Fed sebagai indikator utama pergerakan nilai tukar.
Secara umum, prospek ekonomi Indonesia tetap positif dengan pertumbuhan domestik yang kuat. Namun, ketidakpastian kebijakan moneter global tetap menjadi faktor risiko utama yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.




