Sassuolo Menang 2-1 atas Como, Cesc Fabregas Puji Strategi Fabio Grosso sebagai Mahakarya
Sassuolo Menang 2-1 atas Como, Cesc Fabregas Puji Strategi Fabio Grosso sebagai Mahakarya

Sassuolo Menang 2-1 atas Como, Cesc Fabregas Puji Strategi Fabio Grosso sebagai Mahakarya

Frankenstein45.Com – 08 Mei 2026 | Sassuolo berhasil mengukir kemenangan penting 2-1 atas Como pada laga Serie A pekan ke-24 yang digelar di Stadio Renato Dall’Ara, Milan, pada Selasa (5 Mei 2026). Gol kemenangan datang berkat serangan balik cepat yang dipimpin oleh striker muda Alessandro Sarmiento pada menit ke-27, sementara gol balasan Como tercipta lewat tembakan jarak jauh dari gelandang veteran, Matteo Bianchetti, pada menit ke-53. Kedua gol Sassuolo ditutup dengan gol penentu dari gelandang kreatif, Federico Ricci, pada menit ke-78, memastikan tiga poin penuh bagi tim Nerazzurri.

Di balik kemenangan tersebut, perhatian media terpusat pada pujian tajam yang dilontarkan Cesc Fabregas, manajer baru Como, terhadap strategi pertahanan dan serangan balik yang diterapkan oleh asisten teknis tim, Fabio Grosso. Fabregas menyebut taktik Grosso sebagai “mahakarya” yang berhasil menyeimbangkan kontrol bola dengan transisi cepat, meskipun pada akhirnya timnya belum mampu menahan serangan Sassuolo.

Strategi Fabio Grosso yang Dipuji Fabregas

Fabio Grosso, mantan pemain sayap Italia yang pernah menjuarai Piala Dunia 2006, kini menjabat sebagai asisten pelatih di Como. Menurut Fabregas, Grosso berhasil menanamkan filosofi permainan menyerang yang mengutamakan penguasaan bola, kreativitas, dan pergerakan tanpa bola. “Kami membangun identitas sepak bola yang membuat penonton menikmati setiap detik. Jika fondasinya kuat, hasil akan mengikuti,” ujar Fabregas dalam konferensi pers pasca laga, menyoroti peran Grosso dalam merancang pola pressing tinggi dan blok pertahanan kompak.

Fabregas menambahkan bahwa meski timnya belum memiliki anggaran besar, pendekatan taktis Grosso memungkinkan Como menekan lawan dengan intensitas tinggi, memaksa kesalahan, dan menciptakan peluang melalui umpan-umpan pendek serta pergerakan diagonal. “Itu adalah seni yang kami coba kembangkan setiap latihan,” tambahnya.

Cesc Fabregas: Dari Lapangan ke Bangku Pelatih Como

Berusia 39 tahun, Cesc Fabregas mengakhiri karier gemilangnya sebagai gelandang kelas dunia di klub-klub besar Eropa sebelum memutuskan beralih menjadi pelatih. Pada bulan Februari 2026, ia resmi ditunjuk sebagai manajer tim Serie B, Como 1907, dengan visi jangka panjang mengubah klub kecil menjadi kompetitor tangguh di Serie A. Fabregas menegaskan bahwa tugasnya bukan sekadar mencetak gol, melainkan membangun struktur klub yang berkelanjutan dan menanamkan DNA permainan yang ia pelajari dari Arsène Wenger, Pep Guardiola, dan Antonio Conte.

Dalam wawancara eksklusif bersama The Telegraph, Fabregas mengungkapkan keinginannya menciptakan “sepak bola yang indah” dan menekankan pentingnya kolaborasi dengan staf teknis, termasuk Fabio Grosso, untuk mewujudkan proyek ambisius tersebut. “Tekanan adalah makanan sehari-hari bagi saya selama bertahun‑tahun sebagai pemain. Sekarang tekanan berubah menjadi tanggung jawab menciptakan lingkungan di mana pemain muda dapat tumbuh,” ujarnya.

Reaksi Pemain dan Analisis Pasca Pertandingan

Setelah laga, kapten Sassuolo, Lorenzo Pellegrini, memuji kebugaran timnya dan menyebut kemenangan sebagai bukti kerja keras di bawah pelatih baru, Marco Giampaolo. Sementara itu, kapten Como, Marco Rossi, mengakui bahwa taktik Grosso berhasil menahan serangan awal Sassuolo, namun kegagalan dalam transisi cepat menjadi penyebab kebobolan di menit ke‑78.

Pengamat sepak bola Serie A, Gianni Mazzola, menilai bahwa strategi Grosso memang cemerlang dalam mengendalikan ruang, namun masih memerlukan penyempurnaan terutama dalam hal penutup lini belakang ketika tim beralih ke serangan balik. “Kemenangan Sassuolo menunjukkan betapa pentingnya keseimbangan antara pressing dan pertahanan, dan itu menjadi pelajaran berharga bagi Como,” katanya.

Dampak pada Klasemen Serie A

Kemenangan 2-1 ini mengangkat Sassuolo ke posisi keempat klasemen dengan 53 poin, menutup jarak hanya tiga poin dari tiga besar. Sementara itu, Como tetap berada di zona degradasi dengan 27 poin, menempatkan mereka pada posisi ke‑18. Meski hasilnya mengecewakan, Fabregas tetap optimis, menyatakan bahwa timnya sudah menunjukkan peningkatan signifikan dalam hal penguasaan bola dan intensitas pressing.

Prospek Kedepan untuk Como di Bawah Kepemimpinan Fabregas dan Grosso

Ke depan, Fabregas menargetkan perbaikan pada aspek akhir pertandingan, terutama dalam mengkonversi peluang menjadi gol. Ia menekankan pentingnya rotasi pemain muda seperti Gianluca Mancini dan Alessandro Di Lorenzo, yang telah menunjukkan kreativitas dan keberanian di lini tengah.

Dengan dukungan taktik Grosso, Fabregas berencana mengimplementasikan latihan berbasis zona, memperkuat kerja sama antara lini belakang dan gelandang, serta meningkatkan kemampuan set‑piece. “Kami sedang membangun sesuatu yang cantik di sini. Fans Como akan bangga melihat tim mereka bermain dengan gaya yang elegan dan kompetitif,” tutup Fabregas, menegaskan komitmen penuh untuk mengubah nasib klub.

Secara keseluruhan, meskipun hasil pertandingan tidak menguntungkan bagi Como, pujian Fabregas terhadap strategi Fabio Grosso menandakan adanya sinergi positif antara manajer dan asisten teknis. Kedua tokoh ini bertekad menjadikan Como bukan hanya klub yang bertahan di Serie A, tetapi juga entitas yang dikenal karena filosofi permainan yang menghibur dan berkelas.