Semangat Penyandang Tunarungu Belajar Al‑Qur’an dengan Bahasa Isyarat
Semangat Penyandang Tunarungu Belajar Al‑Qur’an dengan Bahasa Isyarat

Semangat Penyandang Tunarungu Belajar Al‑Qur’an dengan Bahasa Isyarat

Frankenstein45.Com – 25 April 2026 | Belajar Al‑Qur’an tidak lagi terhalang oleh keterbatasan pendengaran. Di sejumlah komunitas Islam di Indonesia, penyandang tunarungu kini dapat mengaji dengan bantuan bahasa isyarat, sehingga mereka dapat memahami makna ayat-ayat suci secara langsung.

Inisiatif dan Metode Pengajaran

Program ini diprakarsai oleh lembaga non‑profit yang bekerja sama dengan para ulama dan ahli bahasa isyarat. Setiap pertemuan diawali dengan pembacaan ayat dalam bahasa Arab, diikuti oleh terjemahan dalam bahasa Indonesia yang disertai gerakan isyarat yang telah diselaraskan dengan makna kalimat.

Peran Guru dan Relawan

Guru pengajar terdiri dari dua orang: seorang ustadz yang menjelaskan tafsir, dan seorang penerjemah bahasa isyarat yang menerjemahkan secara simultan. Relawan yang menguasai bahasa isyarat membantu mencatat pertanyaan serta memberikan penjelasan tambahan bila diperlukan.

Tantangan yang Dihadapi

  • Kurangnya materi ajar yang terstandarisasi dalam bahasa isyarat.
  • Keterbatasan sarana visual, seperti ruang kelas yang kurang pencahayaan.
  • Perluasan jangkauan ke daerah‑daerah terpencil yang belum memiliki penerjemah.

Dampak Positif bagi Penyandang Tunarungu

Sejak program dimulai, lebih dari seratus peserta melaporkan peningkatan pemahaman terhadap Al‑Qur’an serta rasa kebersamaan yang lebih kuat dalam komunitas. Mereka kini dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan ibadah, seperti shalat berjamaah dan kajian rutin.

Harapan ke Depan

Pengelola program berharap dapat memperluas jaringan pelatihan ke seluruh provinsi, serta menghasilkan modul digital yang dapat diakses secara daring. Dengan dukungan pemerintah dan lembaga keagamaan, diharapkan bahasa isyarat menjadi bagian integral dari pendidikan Islam inklusif.