Frankenstein45.Com – 21 Mei 2026 | Jakarta, 20 Mei 2026 – Pemerintah Indonesia kembali menggelar peringatan besar pada hari yang sama dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), menekankan pentingnya pendidikan sebagai pondasi kebangkitan bangsa. Upacara resmi yang diselenggarakan Kementerian Sosial (Kemensos) di Lapangan Kemensos, Jakarta, tidak hanya menjadi wadah mengenang perjuangan tokoh-tokoh awal bangsa, melainkan juga menyoroti program strategis Sekolah Rakyat yang diharapkan menutup kesenjangan akses pendidikan di seluruh pelosok negeri.
Sejarah Pendidikan Nasional Berakar pada Boedi Oetomo
Jejak perjuangan pendidikan di Indonesia dapat ditelusuri kembali ke awal abad ke-20, ketika Dr. Soetomo memimpin pendirian Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Sebagai organisasi modern pertama di tanah air, Boedi Oetomo menegaskan pentingnya pendidikan bagi pemuda pribumi yang selama itu terhalang biaya dan kebijakan kolonial. Soetomo, yang lahir di Nganjuk pada 30 Juli 1888 dengan nama Soebroto, menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) dan kemudian melanjutkan ke School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Keputusan memilih STOVIA, alih-alih jalur birokrasi OSVIA, mencerminkan tekadnya untuk mengangkat status sosial bangsa melalui profesi kedokteran yang setara dengan orang Belanda.
Setelah lulus pada 1911, Dr. Soetomo mengabdikan diri sebagai dokter pemerintah, mengobati wabah di wilayah-wilayah seperti Semarang, Tuban, dan Lubuk Pakam. Pengalaman lapangan memperkuat keyakinannya bahwa kesehatan dan pendidikan saling terkait dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selama masa studinya di Eropa (1919‑1923), Soetomo juga aktif dalam organisasi pergerakan, mengusulkan perubahan nama Indische Vereeniging menjadi Perhimpoenan Indonesia untuk menegaskan identitas nasional.
Warisan Soetomo tetap hidup melalui nilai-nilai autoaktiviteit – kemandirian bangsa – yang menekankan aksi nyata seperti pendirian asrama pelajar, rumah yatim, dan balai latihan kerja. Prinsip‑prinsip tersebut kemudian diadopsi dalam program-program pendidikan modern yang dicanangkan pemerintah saat ini.
Kemensos Soroti Akuntabilitas Sekolah Rakyat
Upacara Harkitnas ke-118 yang dipimpin oleh Staf Ahli Menteri Sosial Bidang Aksesibilitas Sosial, Abdul Muis, mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Tema ini menegaskan bahwa generasi muda adalah fondasi utama kemandirian dan kedaulatan negara. Dalam sambutannya, Abdul Muis menekankan pentingnya program Sekolah Rakyat, yang merupakan inisiatif pemerintah untuk memperluas akses pendidikan di wilayah afirmasi melalui pembangunan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda.
Data resmi menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat telah beroperasi selama hampir dua semester di 166 titik di seluruh Indonesia. Hingga kini, proses penjangkauan telah mengidentifikasi 12.676 calon siswa, terdiri dari 4.328 calon siswa SD, 4.604 calon siswa SMP, dan 2.935 calon siswa SMA. Target penerimaan tahun ajaran baru diproyeksikan mencapai 32.640 siswa, menandakan ambisi pemerintah untuk menurunkan angka putus sekolah secara signifikan.
Abdul Muis juga menyampaikan arahan langsung dari Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengenai pentingnya akuntabilitas, integritas, dan pencegahan korupsi dalam pelaksanaan program. Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan Sekolah Rakyat harus bebas dari praktik penyalahgunaan dana, agar tujuan mulia pendidikan dapat tercapai tanpa halangan.
Sinergi Sejarah dan Kebijakan Modern
Penggabungan nilai historis yang dibawa oleh Dr. Soetomo dengan kebijakan kontemporer menunjukkan kesinambungan perjuangan bangsa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kedua momen – peringatan Harkitnas dan peluncuran program Sekolah Rakyat – berbagi pesan bahwa pendidikan bukan sekadar fasilitas, melainkan alat strategis untuk mengangkat harkat dan martabat seluruh rakyat Indonesia.
Selama upacara, pegawai Kemensos, pejabat tinggi madya, serta perwakilan kementerian lain turut berpartisipasi, menandakan komitmen lintas sektor dalam mewujudkan visi “Jaga Tunas Bangsa”. Pemerintah Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa program ini akan didukung dengan peningkatan mutu guru, penyediaan beasiswa, serta pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan, sehingga setiap anak, baik di kota maupun di desa, memiliki kesempatan belajar yang setara.
Secara keseluruhan, peringatan Hari Pendidikan Nasional kali ini tidak hanya melukiskan nostalgia masa lalu, melainkan juga menyoroti langkah konkrit menuju masa depan. Dari jejak Dr. Soetomo yang menolak ketertinggalan kolonial hingga program Sekolah Rakyat yang menembus pelosok terpencil, Indonesia terus meneguhkan komitmen untuk menyalakan semangat belajar, menggerakkan inovasi, dan membangun generasi yang siap mengemban kedaulatan negara.




