Frankenstein45.Com – 03 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada konferensi pers di Gedung Putih bahwa blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz merupakan “bisnis yang sangat menguntungkan”. Pernyataan tersebut disampaikan tak lama setelah insiden penembakan pada White House Correspondents’ Dinner 25 April 2026, menambah ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia.
Trump menegaskan bahwa AS telah mengambil alih kargo dan minyak Iran sebagai bagian dari strategi penutupan selat. “Kami mengambil alih kargo, mengambil alih minyak, bisnis yang sangat menguntungkan. Siapa yang menyangka, kami seperti bajak laut, tapi kami tidak sedang main-main,” ujarnya dalam sebuah acara di Florida pada 1 Mei 2026. Ia menambahkan bahwa Iran selama bertahun‑tahun menggunakan Selat Hormuz sebagai senjata politik, sehingga AS memutuskan untuk menutup jalur bagi kapal Iran.
Langkah-Langkah Blokade dan Respons Iran
Sejak 13 April 2026, angkatan laut AS mulai menerapkan blokade yang menargetkan semua kapal milik atau yang diduga berafiliasi dengan Iran. Blokade tersebut meliputi penahanan, inspeksi, dan penyitaan kapal-kapal di perairan internasional Selat Hormuz, yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan udara ke instalasi militer Iran, memicu balasan keras dari Tehran terhadap sekutu‑sekutunya di Teluk dan penutupan sebagian Selat Hormuz.
Upaya diplomatik sempat muncul ketika Pakistan memediasi gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April 2026. Negosiasi lanjutan di Islamabad pada 11‑12 April gagal menghasilkan kesepakatan permanen, sehingga Trump memperpanjang gencatan senjata secara sepihak atas permintaan Pakistan, tanpa menetapkan batas waktu.
Strategi Cerdik Iran Menggoyang Armada AS
Iran tidak tinggal diam menghadapi blokade tersebut. Menurut intelijen militer Tehran, pasukan laut Iran mengadopsi taktik asimetris yang memaksa kapal perang AS menyesuaikan posisi. Berikut adalah langkah‑langkah utama yang diambil Iran:
- Penggunaan kapal selam mini dan drone laut: Iran menurunkan sejumlah kapal selam berukuran kecil serta drone tak berawak yang mampu menyusup ke zona patroli AS, menciptakan ancaman yang sulit dideteksi.
- Penambahan ranjau laut: Sebagian wilayah selat dipasangi ranjau laut yang dirancang untuk meledak pada kedalaman tertentu, memaksa kapal AS mengubah rute demi menghindari bahaya.
- Operasi psikologis: Media resmi Iran menyiarkan video‑video simulasi serangan terhadap kapal perang AS, menimbulkan kepanikan di kalangan awak kapal dan menggerakkan perintah mundur.
- Koalisi regional: Iran menjalin kerja sama dengan milisi pro‑Iran di Yaman dan Irak, yang menyiapkan serangan berskala kecil pada titik‑titik strategis di laut.
Akibat taktik tersebut, pada akhir April 2026, sejumlah kapal perang AS melaporkan gangguan sensor, peningkatan kebisingan sonar, dan potensi bahaya ranjau. Komando Angkatan Laut AS kemudian memutuskan untuk menarik beberapa kapal perusak dan kapal pendukung logistik dari zona konflik, mengakui bahwa keberlanjutan operasi memerlukan penyesuaian taktis.
Dampak Ekonomi dan Politik
Penutupan parsial Selat Hormuz berdampak signifikan pada pasar energi global. Harga minyak mentah naik 7 persen dalam seminggu pertama blokade, menimbulkan kekhawatiran pada produsen dan konsumen di Asia serta Eropa. Sementara itu, tekanan internasional meningkat, dengan PBB mengeluarkan peringatan tentang konsekuensi serius penutupan selat yang berkepanjangan.
Di dalam negeri, kebijakan Trump menuai kritik tajam dari anggota Kongres dan analis kebijakan luar negeri yang menilai bahwa pendekatan “bajak laut” tidak berkelanjutan. Sebaliknya, pemerintah Iran mengklaim keberhasilan taktiknya sebagai bukti kemampuan bertahan melawan superioritas militer AS.
Sejak awal Mei 2026, pemerintahan Trump berusaha membentuk koalisi internasional untuk memulihkan lalu lintas maritim, mengundang negara‑negara seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara Eropa. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan yang dapat mengakhiri blokade secara permanen.
Situasi di Selat Hormuz tetap rapuh, dengan kedua belah pihak terus beradu strategi. Sementara Trump menekankan keuntungan ekonomi dari penyitaan minyak Iran, Iran menegaskan bahwa taktik asimetrisnya telah berhasil memaksa armada AS mundur, menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas kebijakan blokade yang dijalankan Washington.




