Frankenstein45.Com – 27 April 2026 | Jakarta, 27 April 2026 – Pada Minggu (26/4/2026), Kota Tangerang menyaksikan dua agenda penting yang sekaligus menandai komitmen daerah dalam mengantisipasi bencana alam: pelantikan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan simulasi tanggap darurat banjir. Acara yang digelar di Jembatan Berendeng, Kecamatan Tangerang, serta di bantaran Sungai Cisadane ini melibatkan ratusan relawan, aparat pemerintah, serta perwakilan sektor swasta dan akademisi.
Simulasi Tanggap Darurat Banjir: Menguji Kecepatan Respons
BPBD Kota Tangerang memimpin pelaksanaan simulasi yang dirancang untuk meniru kondisi banjir kritis yang kerap melanda wilayah Jabodetabek. Kegiatan dimulai dengan kerja bakti massal sejak pagi, melibatkan BPBD Provinsi Banten, BPBD Kota Tangerang, unsur‑unsur wilayah, serta komunitas warga setempat. Kepala Pelaksana BPBD, Mahdiar, menegaskan bahwa simulasi tidak sekadar upacara, melainkan latihan nyata untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
Selama simulasi, sekitar 13.500 benih ikan dan ekoenzim disebarkan ke daerah rawan banjir sebagai upaya rehabilitasi ekosistem sungai. Selain itu, BPBD menerima satu unit perahu lengkap dari Pemerintah Provinsi Banten yang akan memperkuat kapasitas penanggulangan banjir di masa depan.
Mahdiar melaporkan bahwa lebih dari 50 organisasi terlibat dalam skema pentaheliks, mencakup pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, serta masyarakat. “Kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadi kunci keberhasilan respons cepat saat bencana terjadi,” ujarnya.
Pelantikan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB)
Serentak dengan simulasi, Wali Kota Tangerang, Sachrudin, secara resmi melantik anggota FPRB. Upacara pelantikan berlangsung bertepatan dengan Hari Kesiapsiagaan Nasional 2026, menandakan sinergi antara kebijakan dan aksi lapangan. Dalam pidatonya, Sachrudin menekankan pentingnya kesiapsiagaan sebagai fondasi utama dalam melindungi masyarakat dari risiko bencana yang semakin meningkat akibat perubahan iklim dan urbanisasi cepat.
“Kita tidak boleh menunggu sampai bencana melanda. Kesiapsiagaan harus dimulai dari lingkungan terkecil,” tegasnya. Wali Kota menambahkan bahwa FPRB harus menjadi motor penggerak kolaborasi lintas sektor, memastikan bahwa strategi mitigasi, respons, dan pemulihan terintegrasi secara menyeluruh.
Berikut beberapa arahan utama yang disampaikan Sachrudin:
- Memperkuat jaringan pentaheliks untuk menciptakan sinergi antara pemerintah, swasta, akademisi, media, dan masyarakat.
- Mengembangkan program edukasi masyarakat tentang bahaya banjir, genangan, dan cuaca ekstrem.
- Meningkatkan kapasitas infrastruktur penanggulangan bencana, termasuk penyediaan perahu, peralatan evakuasi, dan sistem peringatan dini.
- Menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya bersama yang diterapkan di setiap tingkat pemerintahan dan komunitas.
Langkah Konkret ke Depan
FPRB yang baru dilantik berencana menyusun program kerja tahunan dengan fokus pada tiga pilar utama: edukasi, mitigasi, dan respons. Program edukasi akan mencakup pelatihan bagi warga, simulasi rutin, serta kampanye media untuk meningkatkan kesadaran risiko. Pada sisi mitigasi, pihak kota berencana menambah ruang terbuka hijau dan melakukan normalisasi sungai untuk mengurangi volume air yang mengalir selama musim hujan.
Di bidang respons, penambahan unit perahu serta pengadaan perlengkapan penyelamatan akan dipercepat. Mahdiar menambahkan bahwa data hasil simulasi akan dianalisis untuk memperbaiki prosedur evakuasi dan distribusi bantuan.
Selain itu, kerja sama dengan institusi akademik di Banten dan Jawa Barat akan memperkuat riset mengenai perubahan iklim lokal, sehingga kebijakan dapat berbasis data ilmiah yang akurat.
Dengan dukungan kuat dari pemerintah provinsi, sektor swasta, dan partisipasi aktif masyarakat, harapan kota Tangerang adalah menjadi contoh model kesiapsiagaan bencana yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Kesimpulannya, pelantikan FPRB dan simulasi tanggap darurat banjir tidak hanya menandai momentum seremonial, melainkan juga menegaskan komitmen Tangerang untuk membangun ketangguhan kota melalui kolaborasi pentaheliks, edukasi berkelanjutan, dan investasi infrastruktur yang tepat. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan dampak bencana di masa depan, menjadikan Tangerang lebih siap menghadapi tantangan perubahan iklim.




