Menag Nilai Perayaan Paskah Nasional di Sulawesi Tengah sebagai Contoh Nyata Toleransi
Menag Nilai Perayaan Paskah Nasional di Sulawesi Tengah sebagai Contoh Nyata Toleransi

Menag Nilai Perayaan Paskah Nasional di Sulawesi Tengah sebagai Contoh Nyata Toleransi

Frankenstein45.Com – 27 April 2026 | Ribuan umat Kristiani berkumpul di lapangan Satuan Brigade 18 Kostrad, Poso, Sulawesi Tengah, untuk menyaksikan puncak perayaan Paskah Nasional yang digelar pada akhir pekan lalu. Acara tersebut tidak hanya menjadi momen religius, tetapi juga menampilkan semangat kebersamaan antar umat beragama di wilayah yang dikenal dengan keragaman budaya dan kepercayaan.

Menpanrb (Menteri Agama) menegaskan bahwa perayaan ini mencerminkan nilai toleransi yang kuat. Ia menyatakan, “Paskah ini menunjukkan semangat kebersamaan antar umat beragama, dimana kita dapat menghormati perbedaan sambil tetap merayakan nilai-nilai universal seperti perdamaian dan kasih sayang.”

Berikut poin-poin utama yang menonjol dalam perayaan tersebut:

  • Peserta: Lebih dari 5.000 umat Kristiani dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah dan sekitarnya.
  • Pengisi Acara: Paduan suara gereja, kelompok tari tradisional, dan orkes musik yang menampilkan lagu rohani serta musik daerah.
  • Simbol Toleransi: Upacara pembukaan melibatkan perwakilan agama Islam, Hindu, dan Buddha yang memberikan sambutan singkat dan doa bersama.
  • Program Sosial: Penyaluran paket sembako kepada keluarga kurang mampu di sekitar lokasi sebagai wujud kepedulian bersama.

Selain itu, pihak kepolisian setempat menyiapkan pengamanan ketat untuk menjamin kelancaran acara tanpa gangguan. Warga setempat pun menilai bahwa kehadiran tokoh agama dari berbagai keyakinan memperkuat rasa persaudaraan di tengah komunitas.

Keberhasilan perayaan ini dipandang sebagai contoh konkret bagaimana nilai toleransi dapat diimplementasikan dalam kegiatan keagamaan berskala besar. Menag menambahkan, “Kita harus terus menumbuhkan budaya saling menghormati, terutama di daerah dengan pluralitas tinggi, agar damai dan persatuan tetap terjaga.”

Dengan keberhasilan acara ini, harapan muncul bahwa model serupa dapat direplikasi di provinsi lain sebagai upaya memperkuat persatuan nasional melalui dialog antar agama.