Siswa SMP di NTT Ubah Limbah Kulit Pisang Jadi Peluang Ekonomi: Buat Eskrim hingga Pupuk
Siswa SMP di NTT Ubah Limbah Kulit Pisang Jadi Peluang Ekonomi: Buat Eskrim hingga Pupuk

Siswa SMP di NTT Ubah Limbah Kulit Pisang Jadi Peluang Ekonomi: Buat Eskrim hingga Pupuk

Frankenstein45.Com – 25 Juni 2026 | Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil mengubah limbah kulit pisang menjadi peluang ekonomi yang beragam. Proyek ini tidak hanya mengurangi sampah organik, tetapi juga melatih peserta didik langsung dalam praktik kewirausahaan.

Masalah limbah kulit pisang yang biasanya dibuang begitu saja kini diubah menjadi bahan baku utama untuk beberapa produk bernilai tinggi. Para siswa memulai dengan mengumpulkan kulit pisang dari kantin sekolah dan rumah warga, kemudian membersihkannya secara higienis sebelum diproses.

  • Es krim berbahan dasar kulit pisang: Kulit pisang yang telah dihaluskan dicampur dengan susu, gula, dan bahan pengental alami, kemudian dibekukan menjadi es krim yang memiliki rasa manis alami dan serat tinggi.
  • Pupuk organik cair: Setelah proses fermentasi selama 7‑10 hari, ekstrak kulit pisang dijadikan pupuk cair yang kaya kalium, fosfor, dan mikroba pengurai.
  • Snack keripik pisang: Kulit yang dipotong tipis dan digoreng ringan menjadi camilan renyah yang dipasarkan di lingkungan sekolah.

Berikut rangkuman tahapan produksi dalam bentuk tabel:

Tahap Deskripsi Waktu
Pengumpulan Mengumpulkan kulit pisang dari kantin dan rumah 1‑2 hari
Pembersihan Mencuci dan mensterilkan kulit 1 hari
Pengolahan Penghalusan, fermentasi, atau penggorengan sesuai produk 3‑10 hari
Pengemasan Menyiapkan kemasan ramah lingkungan 1 hari

Hasilnya, siswa tidak hanya mendapatkan produk yang dapat dijual, tetapi juga memperoleh pengetahuan praktis tentang manajemen usaha, pemasaran, dan pengelolaan limbah. Pendapatan dari penjualan es krim, pupuk, dan snack digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler dan bahkan memperbaiki fasilitas laboratorium sekolah.

Guru pembimbing menilai bahwa inisiatif ini dapat direplikasi di sekolah lain, khususnya di daerah agraris yang melimpah bahan organik. Dengan dukungan pihak daerah dan sponsor, diharapkan jaringan produksi limbah kulit pisang dapat membentuk ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.