Frankenstein45.Com – 15 April 2026 | Washington — Empat tahun setelah proses impeachment pertama yang menjerat mantan Presiden Donald Trump pada tahun 2019, gelombang baru tuduhan dan bukti intelijen kembali mengemuka, memicu perdebatan sengit di kalangan politisi, akademisi, dan publik. Pada hari Selasa, mantan profesor hukum Harvard, Alan Dershowitz, menyatakan bahwa Trump memiliki peluang untuk “menghapus” (expunge) impeachment 2019 berkat dokumen‑dokumen yang baru saja dideklasifikasi oleh Direktorat Intelijen Nasional (DNI).
Dokumen baru mengungkap dugaan manipulasi intelijen
Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard merilis serangkaian memo yang menuduh adanya “upaya terkoordinasi” oleh elemen dalam komunitas intelijen, termasuk mantan Inspektur Jenderal Komunitas Intelijen, Michael Atkinson. Memo tersebut menegaskan bahwa Atkinson mengandalkan narasi yang dipolitisasi dan tidak memiliki bukti langsung ketika ia menyalurkan keluhan whistleblower yang memicu penyelidikan impeachment.
Menurut dokumen itu, Atkinson tidak menyelidiki apakah whistleblower berkolaborasi dengan Demokrat, melainkan fokus pada tuduhan terkait panggilan Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Temuan ini menambah spekulasi bahwa proses impeachment 2019 dapat dipengaruhi oleh agenda politik dalam lingkup intelijen.
Analisis hukum: Apakah impeachment dapat di‑expunge?
Secara konstitusional, tidak ada mekanisme yang jelas untuk menghapus atau “mengecualikan” hasil impeachment. Sejumlah akademisi, termasuk profesor Jonathan Turley dari George Washington University, menegaskan bahwa impeachment bersifat final—seperti “DUI konstitusional” yang tidak dapat dibatalkan. Di sisi lain, Profesor Joshua Chafetz dari Georgetown University Law Center mengingatkan bahwa impeachment memiliki konsekuensi di luar Dewan Perwakilan, terutama memicu proses pengadilan di Senat.
Beberapa anggota Partai Republik, seperti Marjorie Taylor Greene dan Elise Stefanik, pernah mengajukan resolusi untuk meng‑expunge kedua impeachment Trump, namun upaya tersebut gagal pada tahun 2023. Tanpa preseden atau prosedur yang ditetapkan, langkah mengajukan “expunge” kini menjadi wilayah yang belum terjamah, menunggu keputusan politik dan hukum selanjutnya.
Reaksi Trump dan strategi politik
Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump membagikan artikel Just the News yang menyoroti pernyataan Dershowitz, dengan keterangan: “Alan, one of the greats, should do it!” Pernyataan tersebut mencerminkan niat Trump untuk kembali menekan Kongres agar meninjau kembali catatan impeachment.
Para penasihat hukum Trump, termasuk Dershowitz, berpendapat bahwa prosedur impeachment bersifat “kuasi‑yudisial”, memungkinkan Presiden yang bersangkutan “kembali ke Kongres” atau “mengajukan ke pengadilan” untuk menghapus catatan tersebut. Namun, langkah ini memerlukan dukungan mayoritas di Dewan Perwakilan serta persetujuan Senat, yang saat ini masih didominasi oleh Partai Demokrat.
Kontroversi seputar bukti dan kesaksian
Selama proses impeachment 2019, sejumlah saksi, termasuk Letnan Kolonel Alexander Vindman, memberikan kesaksian bahwa panggilan telepon Trump dengan Zelenskyy bersifat “tidak pantas”. Kesaksian tersebut tetap menjadi bukti penting meskipun dokumen baru menyoroti potensi bias pada tahap awal investigasi.
Selain itu, dokumen deklasifikasi mengungkap bahwa Atkinson mengirimkan keluhan whistleblower kepada Direktur Intelijen Sementara Joseph Maguire, yang kemudian memicu penyelidikan lebih lanjut. Kritikus berargumen bahwa prosedur tersebut melanggar prinsip netralitas intelijen, sementara pendukung menilai itu sebagai tindakan yang sah dalam menjaga keamanan nasional.
Berita lain: UFC 330 di Philadelphia
Di luar arena politik, dunia olahraga juga mencuri perhatian. UFC 330 dijadwalkan berlangsung di Xfinity Mobile Arena, Philadelphia, pada bulan Agustus 2026. Meskipun tidak terkait dengan impeachment, acara tersebut menandai kembali fokus publik pada hiburan internasional di tengah dinamika politik Amerika.
Dengan munculnya dokumen intelijen baru dan pernyataan tegas dari tokoh hukum terkemuka, masa depan impeachment 2019 Trump masih jauh dari keputusan akhir. Apakah proses “expunge” akan menjadi realitas atau sekadar wacana politik, tetap menjadi pertanyaan utama bagi pemerhati politik AS dan dunia.




