Frankenstein45.Com – 29 Mei 2026 | Ketika sebagian besar mahasiswa tingkat akhir Universitas Nusa Mandiri (UNM) tengah bergelut dengan revisi skripsi, persiapan sidang, dan urusan wisuda, tiga mahasiswa dari jurusan Ilmu Komputer berhasil menorehkan prestasi gemilang di ajang Pancasila Cup 2026. Tim yang terdiri atas Ahmad Fauzi, Lina Kurniawati, dan Rudi Santoso tidak hanya menembus final, tetapi berhasil mengangkat medali emas dalam kompetisi teknologi nasional yang menantang kreativitas serta implementasi nilai-nilai Pancasila dalam solusi digital.
Berikut rangkaian perjuangan mereka:
- Persiapan bersamaan dengan skripsi: Ketiga mahasiswa menyusun jadwal harian yang memadukan penelitian skripsi dengan latihan intensif tim. Setiap hari mereka mengalokasikan empat jam untuk pengembangan aplikasi kompetisi, sementara sisanya digunakan untuk menulis dan mengoreksi bab skripsi.
- Strategi kompetisi: Tim memilih tema “Smart City Berbasis Nilai Pancasila” dan mengembangkan aplikasi platform layanan publik yang terintegrasi dengan data terbuka. Solusi mereka menonjolkan prinsip keadilan, keberagaman, dan gotong‑royong.
- Uji coba dan feedback: Sebelum Pancasila Cup, mereka melakukan uji coba di lingkungan kampus dan menerima masukan dari dosen pembimbing serta mahasiswa lain, sehingga aplikasi terus disempurnakan.
Pancasila Cup 2026, yang diselenggarakan secara daring dan luring di Jakarta, menilai peserta berdasarkan inovasi, relevansi sosial, serta implementasi nilai-nilai Pancasila. Tim UNM berhasil mengalahkan 42 tim lainnya dengan skor tertinggi dalam kategori inovasi teknis dan dampak sosial.
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan fakultas dan lembaga riset UNM. Rektor Universitas Nusa Mandiri, Prof. Dr. Hendra Pratama, menyatakan, “Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa dapat menyeimbangkan tugas akademik dengan kegiatan ekstrakurikuler yang produktif. Kami bangga atas dedikasi mereka yang menjadikan skripsi bukan beban, melainkan pendorong inovasi.”
Selain medali emas, tim juga memperoleh beasiswa riset senilai Rp 150 juta untuk pengembangan lanjutan aplikasi mereka, serta kesempatan mempresentasikan proyek di konferensi internasional teknologi pendidikan.
Kesuksesan tiga mahasiswa UNM ini menjadi inspirasi bagi rekan-rekan seangkatan yang masih bergelut dengan skripsi. Mereka membuktikan bahwa dengan manajemen waktu yang tepat, kolaborasi yang solid, dan semangat inovatif, beban akademik tidak menghalangi pencapaian prestasi di tingkat nasional.




