Soal Nasib 21 Ribu Motor Listrik yang Mangkrak Usai Dadan cs Tersangka, BGN: Kami Inginnya Dimaksimalkan
Soal Nasib 21 Ribu Motor Listrik yang Mangkrak Usai Dadan cs Tersangka, BGN: Kami Inginnya Dimaksimalkan

Soal Nasib 21 Ribu Motor Listrik yang Mangkrak Usai Dadan cs Tersangka, BGN: Kami Inginnya Dimaksimalkan

Frankenstein45.Com – 16 Juni 2026 | Badan Gizi Nasional (BGN) pada Rabu (tanggal) menyatakan komitmennya untuk memaksimalkan penggunaan 21 ribu motor listrik senilai Rp1,39 triliun yang sebelumnya menjadi barang terpakai dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Motor‑motor tersebut terhenti setelah tiga mantan pimpinan BGN ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait pengadaan kendaraan listrik.

Latar Belakang Pengadaan

Program MBG, yang diluncurkan oleh pemerintah untuk meningkatkan gizi anak sekolah, mencakup penyediaan kendaraan listrik sebagai sarana distribusi makanan bergizi. Pada 2022, BGN menandatangani kontrak pengadaan 21.000 unit motor listrik dengan nilai total Rp1,39 triliun. Namun, proses pengadaan tersebut kemudian disusupi oleh praktik korupsi yang melibatkan mantan pejabat BGN, termasuk Dadan dan rekan‑rekannya.

Kasus Hukum dan Dampaknya

Setelah penyidikan KPK, tiga mantan pimpinan BGN dinyatakan tersangka. Akibatnya, seluruh motor listrik yang telah dibeli tidak dapat langsung dioperasikan karena status hukum barang masih belum jelas. Motor‑motor tersebut kini berada di gudang BGN, menimbulkan kerugian material dan menunda manfaat program MBG.

Komitmen BGN untuk Memaksimalkan

Direktur Utama BGN, Nama Direktur, menegaskan bahwa lembaga tersebut ingin “memaksimalkan” penggunaan motor listrik tersebut demi kepentingan publik. Ia menyampaikan bahwa BGN sedang menyusun rencana penyaluran motor kepada daerah yang paling membutuhkan, termasuk wilayah dengan tingkat kekurangan gizi tinggi.

  • Identifikasi prioritas daerah berdasarkan data gizi anak.
  • Penyusunan mekanisme distribusi yang transparan dan akuntabel.
  • Koordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Pendidikan.
  • Pengawasan ketat untuk memastikan motor tidak kembali terjerat masalah hukum.

Tantangan yang Dihadapi

Beberapa kendala masih harus diatasi, antara lain:

  1. Legalitas kepemilikan motor yang masih dalam proses penyelesaian kasus.
  2. Kebutuhan dana tambahan untuk perawatan dan operasional.
  3. Resistensi internal akibat kehilangan kepercayaan publik.

Meski demikian, BGN optimis bahwa dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah, motor listrik tersebut dapat segera dioperasikan untuk mempercepat distribusi makanan bergizi ke sekolah‑sekolah.

Penggunaan motor listrik ini tidak hanya diharapkan dapat meningkatkan efisiensi distribusi, tetapi juga mendukung agenda pemerintah dalam mengurangi emisi karbon serta memajukan teknologi ramah lingkungan di Indonesia.