Frankenstein45.Com – 29 Juni 2026 | Pertemuan Munas-Konbes (Musyawarah Nasional Konferensi Besar) Nahdlatul Ulama yang digelar di Bangkalan, Jawa Timur, menarik perhatian karena satu catatan kritis dari kalangan Nahdliyin. Kiai Miftahul Akhyar, yang menjadi pembicara utama, menyampaikan pidato di hadapan ribuan delegasi NU dari seluruh Indonesia.
Setelah sesi berakhir, seorang tokoh Nahdliyin menyoroti adanya beberapa hal yang kurang tepat dalam pidato Kiai Miftahul Akhyar. Kritik utama diarahkan pada dua aspek: penggunaan kutipan yang tidak sesuai sumber aslinya, serta cara pembacaan teks yang dianggap tidak akurat.
- Kutipan tidak tepat: Tokoh tersebut menekankan bahwa beberapa pernyataan yang diklaim berasal dari kitab klasik ternyata tidak ditemukan dalam versi terjemahan resmi, sehingga menimbulkan potensi kesalahpahaman.
- Pembacaan teks: Ia juga mencatat bahwa cara Kiai membaca beberapa ayat dan hadits tidak mengikuti kaidah tajwid serta tata baca yang baku, yang berpotensi mengurangi kesan otoritatif pidato.
Tokoh Nahdliyin mengingatkan pentingnya ketelitian dalam menyampaikan materi keagamaan, terutama pada forum berskala nasional. Menurutnya, akurasi sumber dan kejelasan penyampaian adalah kunci untuk menjaga kredibilitas para pemuka agama di mata umat.
Sampai saat ini, Kiai Miftahul Akhyar belum memberikan klarifikasi resmi terkait temuan tersebut. Namun, pernyataan kritik tersebut telah memicu diskusi internal di kalangan pengurus NU tentang prosedur verifikasi materi sebelum dipublikasikan dalam acara resmi.
Kasus ini menegaskan kembali bahwa dalam era informasi cepat, setiap pemuka agama perlu memastikan bahwa kata-kata yang disampaikan tidak hanya menginspirasi, tetapi juga didukung oleh sumber yang sahih dan penyampaian yang tepat.




