Frankenstein45.Com – 11 April 2026 | Jakarta – Pada hari Rabu, 10 April 2026, peringatan Hari Ulang Tahun ke‑80 Republik Indonesia diselenggarakan di Istana Merdeka dengan rangkaian acara yang dihadiri oleh sejumlah tokoh negara, militer, dan pejabat tinggi. Salah satu sorotan utama datang dari kehadiran Sri Sultan Hamengkubuwono X (Sri Sultan HB X) yang secara tak terduga menyapa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo serta menerima “tanda mata” spontan dari Presiden Prabowo Subianto.
Acara Peringatan HUT ke‑80
Upacara dimulai dengan pembacaan teks proklamasi oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, diikuti dengan penampilan musik tradisional yang menampilkan gamelan dan tari serimpi. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang menekankan pentingnya persatuan bangsa serta peran generasi muda dalam menjaga kedaulatan.
Momen Sri Sultan Bersalaman dengan Kapolri
Setelah sesi pidato, Sri Sultan HB X melangkah ke podium untuk memberikan salam hormat kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dalam momen yang terekam kamera, Sultan tampak tanpa topi, menambah keunikan visual. Kapolri, yang mengenakan seragam lengkap, menjawab salam dengan senyuman lebar dan menepuk bahu Sultan secara bersahabat. Interaksi tersebut menciptakan atmosfer hangat di antara aparat keamanan dan keluarga keraton.
Tanda Mata Spontan dari Prabowo
Tak lama setelah itu, Presiden Prabowo Subianto menghampiri Sri Sultan HB X. Tanpa persiapan, Prabowo mengulurkan sebuah plakat kecil berisi “Tanda Mata” yang berisi ucapan selamat atas peringatan HUT ke‑80 serta harapan agar keraton terus menjadi simbol kebudayaan Jawa. Sri Sultan terlihat terkejut namun menerima plakat tersebut dengan penuh hormat, kemudian menepuk pundak Prabowo sebagai balasan. Momen ini langsung menjadi viral di media sosial, menambah kehangatan acara.
Reaksi Tamu Undangan Lainnya
- Ketua DPR, Puan Maharani, memberikan pujian atas kerja sama antara lembaga legislatif dan eksekutif dalam memperingati hari bersejarah.
- Menlu Luar Negeri, Retno Marsudi, menyoroti pentingnya diplomasi budaya yang diwakili oleh kehadiran keraton dalam acara kenegaraan.
- Perwakilan komunitas adat, termasuk tokoh Banten dan Bali, menyampaikan persembahan seni tradisional sebagai bentuk rasa hormat.
Secara keseluruhan, kehadiran Sri Sultan HB X dan interaksinya dengan Kapolri serta Presiden memberikan nuansa kebersamaan yang jarang terlihat dalam agenda resmi negara. Tidak adanya topi pada Sultan menjadi bahan candaan ringan di antara tamu, namun juga menegaskan kepribadian santainya.
Acara diakhiri dengan pemotongan kue raksasa berwarna merah putih dan penampilan band musik pop Indonesia yang menambah semarak suasana. Para peserta pun meninggalkan Istana dengan rasa kebanggaan dan harapan baru untuk masa depan bangsa.
Dengan momen tak terduga namun penuh makna ini, peringatan HUT ke‑80 tidak hanya menjadi perayaan sejarah, melainkan juga simbol persatuan lintas sektoral antara lembaga keamanan, kepemimpinan politik, dan warisan kebudayaan. Sri Sultan HB X, yang dikenal sebagai figur keraton yang rendah hati, berhasil menyuntikkan sentuhan manusiawi ke dalam rangkaian protokol resmi, memperkuat narasi bahwa Indonesia tetap mengedepankan nilai-nilai gotong‑royong dalam setiap langkahnya.




