Frankenstein45.Com – 20 Mei 2026 | Stellantis, produsen mobil multinasional yang berbasis di Amerika Serikat, mengumumkan rencana penting untuk memperluas produksi kendaraan listrik (EV) di Eropa melalui kerja sama strategis dengan produsen otomotif milik negara China, Dongfeng Motor Corporation. Kesepakatan tersebut menandai pembangunan setidaknya satu model mobil listrik mewah di bawah merek Voyah, yang akan diproduksi di pabrik Stellantis yang berlokasi di Rennes, Perancis.
Menurut dua sumber yang dekat dengan kedua perusahaan, joint venture ini akan dimiliki 51% oleh Stellantis, sementara Dongfeng akan memegang sisanya. Kesepakatan ini diharapkan dapat diumumkan secara resmi pada pertengahan pekan ini, sejalan dengan agenda Capital Markets Day Stellantis yang dijadwalkan pada hari Kamis. CEO Stellantis, Antonio Filosa, diperkirakan akan menyoroti kolaborasi ini sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk merebut kembali pangsa pasar di Amerika Utara dan Eropa.
Strategi Menghindari Tarif UE
Salah satu motivasi utama Dongfeng dalam melakukan produksi di Rennes adalah untuk menghindari tarif impor yang diberlakukan Uni Eropa terhadap kendaraan listrik buatan China. Dengan memproduksi mobil Voyah di dalam kawasan UE, Dongfeng dapat menyalurkan produk-produknya ke pasar Eropa tanpa terkena bea masuk yang tinggi, sehingga meningkatkan daya saing harga.
Data Dataforce menunjukkan bahwa pada tahun 2025 Dongfeng hanya berhasil menjual 3.210 unit kendaraan bermerek Dongfeng dan Voyah di seluruh Eropa, termasuk pasar-pasar kecil seperti Italia dan Polandia. Target ambisius perusahaan tersebut adalah mencapai penjualan global empat juta unit pada tahun 2030, dengan lebih dari 40% berasal dari pasar luar negeri. Kolaborasi dengan Stellantis di Rennes menjadi langkah konkret untuk mewujudkan target tersebut.
Manfaat bagi Stellantis
Bagi Stellantis, kerja sama ini memberikan dua keuntungan utama. Pertama, pemanfaatan kapasitas produksi yang masih belum optimal di pabrik Rennes, yang selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan output akibat penurunan penjualan mobil konvensional. Kedua, kehadiran merek Voyah yang mewakili segmen mobil listrik mewah dapat melengkapi portofolio produk Stellantis di Eropa, yang saat ini masih didominasi oleh model-model massal.
Stellantis tidak pertama kali menggandeng produsen China untuk mengoptimalkan fasilitas produksinya di luar negeri. Magna International, misalnya, telah memproduksi mobil untuk Xpeng dan GAC di sebuah pabrik di Austria. Praktik serupa semakin umum mengingat persaingan harga EV yang ketat di pasar domestik China, memaksa produsen China mencari peluang pertumbuhan di luar negeri.
Dampak Terhadap Industri Otomotif Eropa
Kolaborasi ini dapat menjadi katalisator perubahan dalam ekosistem otomotif Eropa. Dengan semakin banyak produsen China yang mengalihkan produksi ke pabrik-pabrik Eropa, tekanan pada kebijakan tarif UE akan meningkat. Pemerintah Eropa kemungkinan akan meninjau kembali kebijakan tarif untuk menyeimbangkan antara melindungi industri dalam negeri dan menarik investasi asing.
Selain itu, kehadiran kendaraan listrik mewah berbasis teknologi China dapat memperkaya pilihan konsumen Eropa, yang kini semakin menuntut variasi model dan fitur canggih. Hal ini dapat mempercepat adopsi EV di wilayah tersebut, sejalan dengan target net-zero emission yang ditetapkan oleh Uni Eropa pada tahun 2050.
Proyeksi Penjualan dan Tantangan
Meskipun prospek pasar tampak menjanjikan, terdapat tantangan signifikan yang harus dihadapi. Persaingan di segmen EV mewah sangat ketat, dengan pemain seperti Tesla, Porsche, dan Mercedes-Benz yang telah menguasai pangsa pasar. Dongfeng harus memastikan bahwa mobil Voyah yang diproduksi di Rennes memiliki kualitas, desain, dan teknologi yang dapat bersaing secara global.
Selain itu, regulasi emisi dan standar keselamatan yang ketat di Eropa menuntut proses sertifikasi yang panjang. Kedua perusahaan harus berkolaborasi erat dalam riset dan pengembangan (R&D) untuk memenuhi standar tersebut.
Secara keseluruhan, joint venture antara Stellantis dan Dongfeng di Rennes menandai langkah strategis penting bagi kedua belah pihak. Bagi Dongfeng, produksi di dalam Uni Eropa membuka pintu bagi ekspansi pasar yang lebih luas tanpa beban tarif. Bagi Stellantis, kolaborasi ini membantu mengoptimalkan kapasitas produksi dan memperkaya portofolio EV mewah. Jika berhasil, model ini dapat menjadi contoh bagi lebih banyak produsen otomotif dunia dalam memanfaatkan fasilitas produksi yang ada untuk mengatasi hambatan perdagangan dan mempercepat transisi ke kendaraan listrik.




