Kasus Perundungan Terungkap
Frankenstein45.Com – 23 April 2026 | Seorang ibu warga Padang mengungkap dugaan perundungan yang dialami anaknya di sebuah sekolah menengah pertama setempat. Menurut sang ibu, anaknya yang menganut ajaran leluhur Sunda alami perlakuan intimidasi yang berkelanjutan, hingga memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan pendidikan di sana. Ibu korban menuding adanya konspirasi di antara beberapa guru yang dianggapnya bersekongkol untuk menindas anaknya.
Pernyataan Ibu Korban
“Saya tidak pernah membayangkan bahwa mengajarkan nilai-nilai budaya nenek moyang kepada anak saya justru menjadi pemicu perlakuan buruk di sekolah,” ujar Ibu Siti, 38 tahun, yang meminta disamarkan demi keamanan. Ia menjelaskan bahwa sejak kelas tiga, anaknya, Rizal (nama samaran), mulai menerima cercaan mengenai penampilan, cara berpakaian, dan keyakinan spiritual yang dianggap “aneh” oleh sebagian teman sekelas. “Mereka memanggilnya ‘penganut ajaran aneh’, lalu mengolok‑olok saat ia melakukan upacara kecil di kelas,” tambahnya.
Ibu Siti menegaskan bahwa guru kelas dua dan tiga tampak menutup mata terhadap insiden tersebut. “Beberapa guru bahkan mengabaikan laporan saya, bahkan ada yang menertawakan keluhan saya,” katanya. Ia menuduh adanya kolusi antara guru dan kelompok siswa tertentu yang berusaha mengusir anaknya dari lingkungan sekolah.
Reaksi Sekolah dan Pihak Berwenang
Pihak sekolah, melalui pernyataan resmi yang dikeluarkan pada hari Selasa, menyatakan bahwa mereka menanggapi setiap laporan perundungan dengan serius. Kepala Sekolah, Bapak Ahmad Fauzi, menyebutkan bahwa semua guru telah dipanggil untuk memberikan klarifikasi dan bahwa tim konseling akan melakukan intervensi psikologis terhadap semua pihak yang terlibat.
Namun, Ibu Siti mengkritik kecepatan respons tersebut. “Kami sudah melaporkan sejak Januari, tetapi belum ada tindakan konkrit. Sekarang, kami hanya mendapat janji-janji kosong,” katanya. Pihak Dinas Pendidikan Kota Padang kemudian membuka penyelidikan internal dan menyatakan akan menindaklanjuti jika terbukti ada pelanggaran kode etik guru.
Latar Belakang Budaya dan Dampaknya
Kasus ini menyoroti dinamika sosial‑kultural yang masih lekat di sejumlah wilayah Indonesia. Anak yang menganut kepercayaan tradisional Sunda di Padang—sebuah daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam—kerap menghadapi stereotip negatif. Penelitian terbaru dari Universitas Andalas menunjukkan bahwa siswa dengan latar belakang kepercayaan minoritas memiliki risiko lebih tinggi menjadi korban bullying dibandingkan dengan mayoritas.
- 73% siswa mengaku pernah menyaksikan perlakuan diskriminatif terhadap teman sekelas yang berbeda keyakinan.
- 45% guru mengakui kurangnya pelatihan dalam menangani kasus multikultural di sekolah.
- Hanya 12% sekolah yang memiliki kebijakan anti‑bullying yang jelas dan dipublikasikan.
Data tersebut menegaskan pentingnya pendekatan inklusif dalam pendidikan, terutama dalam mengakomodasi keanekaragaman budaya dan kepercayaan.
Dalam konteks ini, pernyataan Ibu Siti menjadi panggilan bagi seluruh pemangku kepentingan—guru, orang tua, dan pemerintah daerah—untuk meninjau kembali kebijakan dan praktik di lingkungan sekolah. Tanpa penanganan yang tepat, risiko putusnya pendidikan bagi anak‑anak seperti Rizal dapat berujung pada tingginya angka putus sekolah dan menurunnya kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Sejauh ini, kasus Rizal masih dalam proses penyelidikan. Ibu Siti berharap bahwa tindakan tegas dapat diambil, sehingga tidak ada lagi anak yang harus menanggung beban perundungan hanya karena perbedaan budaya atau kepercayaan.







