Frankenstein45.Com – 23 Mei 2026 | Surabaya – Pada usia 105 tahun, Marsiyah Salim, seorang putri kelahiran Kabupaten Kediri, berhasil mewujudkan impian seumur hidupnya: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Keberangkatan Marsiyah bersama kloter 112 menimbulkan keheranan dan kekaguman, mengingat kebanyakan orang menganggap usia seratus tahun sebagai masa pensiun total, bukan lagi untuk menapaki perjalanan panjang ke Mekah.
Dalam wawancara eksklusif di Asrama Haji Embarkasi Surabaya pada Kamis, 21 Mei 2026, Marsiyah mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam. “Alhamdulillah, senang, banyak temannya. Sampai sini senang. Gak sabar lihat Ka’bah,” ujarnya dengan mata berbinar. Ia menambahkan bahwa meski masih merasakan kesemutan pada kaki setelah menempuh perjalanan jauh dari Dusun Bogo, Kecamatan Semen, Kediri, semangatnya tak pernah surut.
Perjalanan Panjang yang Ditenun dengan Keringat dan Tabungan
Sejak muda, Marsiyah menumpahkan tenaga untuk menghidupi keluarganya. Berjualan dodol, jenang, serta bahan pokok di pasar tradisional menjadi sumber penghasilan utama. “Sudah menabung lama dulu jualan jenang (dodol) saya tabung sedikit demi sedikit. Kalau sudah kumpul banyak, buat haji di Makkah,” katanya. Tabungan tersebut akhirnya cukup untuk mendaftarkan diri pada tahun 2021, namun hanya pada musim haji 2026 ia mendapat kesempatan berangkat melalui prioritas lanjut usia.
Tak hanya menumpahkan tenaga, ia juga menanamkan kebiasaan hidup sehat yang ia rasa menjadi rahasia umur panjangnya:
- Berjalan kaki secara rutin sejak muda.
- Menghindari makanan pedas dan kopi.
- Selalu mengonsumsi susu di pagi hari.
- Menjalankan puasa Ramadan tanpa gangguan.
Menurutnya, tidak ada resep khusus, melainkan konsistensi dalam kerja keras, pola makan sederhana, dan keimanan yang kuat.
Dukungan Keluarga dan Anak Kedua
Keberangkatan Marsiyah tidak lepas dari bantuan anak keduanya, Muidah (62), yang juga tergabung dalam kloter yang sama. “Didampingi sama anak. Sehat-sehat alhamdulillah. Kalau pagi jalan-jalan buat persiapan haji,” ujar Muidah. Ia menjelaskan bahwa proses pendaftaran haji mereka dimulai pada 2021, namun harus menunggu lima tahun karena kuota terbatas serta prioritas usia lanjut.
Selama persiapan, keduanya melakukan latihan fisik ringan, mengatur pola makan, dan berdoa bersama. “Kami berdoa agar Allah memudahkan perjalanan ini, mengingat usia saya sudah sangat lanjut,” kata Marsiyah.
Kondisi Kesehatan di Usia Seratus Lima Tahun
Meski berusia lebih dari satu abad, Marsiyah masih memiliki pendengaran dan kemampuan berbicara yang baik tanpa harus diulang. Ia dapat berjalan tanpa alat bantu, meskipun hanya untuk jarak tertentu. “Kalau tidak kesemutan, saya bisa jalan kaki. Tadi dari Kediri sedikit kesemutan tapi sudah tidak,” ujarnya. Dokter yang memeriksa menyatakan bahwa kondisi fisik Marsiyah berada dalam batas wajar untuk usia tersebut, berkat gaya hidup aktif dan nutrisi seimbang.
Makna Spiritual dan Sosial
Keberangkatan ini tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, melainkan juga simbol harapan bagi banyak orang Indonesia yang menganggap usia sebagai batasan. “Saya ingin menjadi contoh bahwa tidak ada kata terlambat untuk beribadah,” kata Marsiyah saat menatap foto Ka’bah di layar televisi asrama.
Di tengah kerumunan jamaah haji yang beragam, Marsiyah menjadi sorotan media dan masyarakat. Banyak yang mengirimkan pesan dukungan melalui telepon, surat, dan media sosial, meski tidak ada tautan yang disertakan dalam laporan ini.
Dengan semangat yang menginspirasi, Marsiyah Salim kini berada di tengah barisan jamaah yang menunaikan rukun Islam kelima. Perjalanannya menjadi bukti bahwa tekad, kerja keras, dan keimanan dapat menembus batas usia, menjadikan setiap langkahnya sebagai pelajaran berharga bagi generasi mendatang.
Semoga keberangkatan Marsiyah menjadi doa yang terjawab, dan kisahnya terus menginspirasi jutaan orang di seluruh Indonesia untuk tidak pernah menyerah pada mimpi, berapapun usianya.




