Frankenstein45.Com – 10 Mei 2026 | JAKARTA – Kementerian Pertahanan melalui Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, memberikan keterangan resmi terkait dua insiden terpisah yang terjadi di wilayah Papua, khususnya di Kabupaten Puncak, yang melibatkan kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kedua peristiwa tersebut menimbulkan luka mendalam bagi warga sipil, termasuk tewasnya seorang anak perempuan berusia 12 tahun.
Insiden Pertama: Serangan di Camp Wini Kalikuluk, Mimika
Pada Kamis, 7 Mei 2026, kelompok OPM yang dipimpin oleh Guspi Waker melakukan serangan bersenjata di Camp Wini Kalikuluk, MP 69, Tembagapura, Kabupaten Mimika. Serangan tersebut mengakibatkan satu anak perempuan berusia sekitar dua belas tahun tewas akibat luka tembak di bahu kiri, serta seorang warga sipil lainnya mengalami luka tembak pada betis kiri. Menurut pernyataan tertulis Mayjen Aulia pada 10 Mei 2026, Satgas TNI yang tengah melakukan patroli mendeteksi pergerakan mencurigakan dari arah Camp David di seberang sungai, kemudian terdengar dua kali letusan senjata api diikuti rentetan tembakan menembus permukiman warga.
Personel TNI segera mengedepankan prinsip Rules of Engagement (ROE) dengan bertindak terukur, profesional, dan menghormati hak asasi manusia. Evakuasi warga, khususnya perempuan, anak‑anak, dan kelompok rentan, dilaksanakan sebelum dilakukan pengejaran terhadap kelompok bersenjata yang melarikan diri ke dalam hutan. Sayangnya, meski telah dibawa ke jalan poros MP 69 untuk mendapatkan pertolongan medis, anak perempuan tersebut dinyatakan meninggal dunia di tempat.
Insiden Kedua: Penyerangan di Kabupaten Puncak
Beberapa minggu sebelumnya, tim intelijen TNI mencatat peningkatan aktivitas OPM di Kabupaten Puncak, Papua. Pada awal April 2026, kelompok bersenjata tersebut melakukan serangkaian penyerangan terhadap warga sipil di sebuah desa pinggiran, termasuk penembakan terhadap enam guru yang tengah melaksanakan tugas mengajar. Dari serangan itu, satu guru mengalami luka kritis, sementara lima lainnya berhasil selamat dengan luka ringan.
Dalam upaya menanggapi ancaman tersebut, Satgas TNI melakukan operasi penembakan balasan dan penangkapan beberapa anggota OPM. Selama operasi, TNI menegaskan kembali komitmen untuk melindungi penduduk sipil serta menegakkan supremasi hukum. Meskipun operasi berhasil mengamankan wilayah, beberapa warga tetap mengungsi ke posko pengungsian yang telah disiapkan pemerintah daerah.
Langkah TNI Selanjutnya
- Penguatan patroli militer di daerah rawan konflik, khususnya di jalur transportasi utama seperti Jalan Poros MP 69 dan jaringan jalan di Kabupaten Puncak.
- Peningkatan koordinasi dengan aparat keamanan lokal untuk mempercepat respons terhadap ancaman bersenjata.
- Penyediaan bantuan kemanusiaan bagi warga yang mengungsi, termasuk makanan, obat‑obatan, dan tempat tinggal sementara.
- Pelatihan khusus bagi personel militer mengenai penanganan situasi konflik bersenjata yang melibatkan warga sipil, guna meminimalkan risiko korban jiwa.
Mayjen Aulia menegaskan bahwa TNI tidak akan mentolerir aksi kekerasan terhadap penduduk sipil. “Kami terus berupaya menjaga keamanan dan ketertiban, sambil tetap menghormati hak asasi manusia. Setiap langkah diambil dengan pertimbangan matang demi keselamatan warga,” ujar Aulia.
Hingga kini, proses investigasi atas kedua insiden tersebut masih berlangsung. Pihak berwenang berjanji akan memberikan laporan lengkap kepada publik setelah semua bukti terkumpul dan pelaku yang bertanggung jawab diidentifikasi.
Situasi di Papua tetap menjadi sorotan nasional, dengan harapan bahwa upaya bersama antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat meredam eskalasi konflik serta memastikan keamanan bagi seluruh warga.




