Trump Tekankan: AS Tidak Terburu‑buru dalam Kesepakatan Iran, Blokade Hormuz Tetap Ditingkatkan
Trump Tekankan: AS Tidak Terburu‑buru dalam Kesepakatan Iran, Blokade Hormuz Tetap Ditingkatkan

Trump Tekankan: AS Tidak Terburu‑buru dalam Kesepakatan Iran, Blokade Hormuz Tetap Ditingkatkan

Frankenstein45.Com – 25 Mei 2026 | WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (24/5/2026) menegaskan kembali kebijakan Washington untuk tidak terburu‑buru dalam menyelesaikan perundingan damai dengan Iran, sekaligus memerintahkan kelanjutan blokade kapal‑kapal Iran di Selat Hormuz hingga sebuah perjanjian resmi ditandatangani.

Instruksi Presiden kepada Tim Negosiator

Dalam unggahan resmi di platform media sosialnya, Truth Social, Trump menuliskan bahwa ia telah memberi arahan kepada delegasi diplomatik di Washington untuk “meluangkan waktu dan melakukannya dengan benar”. Ia menekankan bahwa “waktu masih berpihak kepada kami” dan menolak tekanan internasional yang menuntut percepatan proses negosiasi.

Latar Belakang Isu Nuklir Iran

Isu utama yang masih mengganjal dalam rangkaian upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah adalah program nuklir Tehran. Tehran menuntut pembebasan dana yang selama ini dibekukan oleh AS, sementara Washington menahan beberapa aspek kesepakatan yang dianggap belum memenuhi standar keamanan nuklir internasional.

Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran melaporkan bahwa Amerika Serikat masih menghalangi sejumlah poin penting, termasuk permintaan Iran untuk mengakses kembali aset‑aset yang ditahan. Pada saat yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa kedua belah pihak telah mendekati sebuah nota kesepahaman berisi 14 pasal yang berpotensi menjadi kerangka kerja perjanjian lebih lanjut.

Rencana Kesepakatan dan Dampaknya

Menurut laporan yang dikutip oleh Axios, kesepakatan yang sedang dipertimbangkan dapat memperpanjang gencatan senjata selama enam puluh hari, membuka kembali Selat Hormuz untuk perdagangan minyak, dan melanjutkan diskusi lanjutan tentang program nuklir Tehran. Seorang pejabat senior AS yang tidak ingin disebutkan namanya menegaskan bahwa “pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, telah menyetujui garis besar kesepakatan tersebut”, meski masih ada pertanyaan mengenai bentuk final perjanjian.

  • Blokade kapal Iran di Selat Hormuz tetap diberlakukan hingga perjanjian disahkan.
  • Potensi pembebasan dana yang dibekukan bagi Iran menjadi titik negosiasi kunci.
  • Kerangka kerja 14 pasal dapat menjadi dasar bagi perjanjian jangka panjang.
  • Gencatan senjata 60 hari diprediksi akan memberi ruang bagi diplomasi lebih lanjut.

Reaksi dalam Politik Amerika

Langkah Trump mendapat sorotan keras dari anggota Kongres yang dikenal berposisi keras terhadap Iran. Senator Lindsey Graham dan Senator Ted Cruz secara terbuka mengkritik rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, khawatir hal tersebut dapat memberi Iran “keberanian lebih” untuk melanjutkan program nuklirnya. Mereka menuntut agar Washington tetap menegakkan sanksi ekonomi dan militer yang ketat.

Namun, pendukung kebijakan diplomatik menilai bahwa memberi ruang bagi Iran untuk menegosiasikan kembali dapat mencegah eskalasi militer lebih lanjut di wilayah yang sudah tegang. Para analis strategis menyoroti bahwa kebijakan “tidak terburu‑buru” sejalan dengan strategi Trump sebelumnya yang menolak perjanjian nuklir 2015 yang dibentuk di era Obama.

Prospek Kedepan

Meski belum ada rincian resmi yang dirilis Gedung Putih, sinyal bahwa kedua belah pihak hampir mencapai nota kesepahaman menandakan bahwa perundingan masih berada pada jalur yang produktif. Pihak Iran menegaskan bahwa mereka siap menandatangani perjanjian asalkan tidak ada lagi pembatasan yang menghalangi hak mereka untuk mengembangkan energi sipil.

Jika kesepakatan tercapai, dampaknya tidak hanya akan dirasakan di kawasan Teluk Persia, tetapi juga pada pasar energi global, di mana harga minyak dapat mengalami penurunan signifikan karena pembukaan kembali Selat Hormuz. Pada saat yang sama, keberhasilan diplomasi ini dapat menjadi contoh bagi penyelesaian konflik lain yang melibatkan program senjata nuklir.

Dengan tekanan domestik yang terus meningkat dan dinamika geopolitik yang berubah cepat, Trump tampaknya memilih pendekatan yang menyeimbangkan antara ketegasan militer dan fleksibilitas diplomatik. Kebijakan ini akan terus dipantau oleh para pengamat internasional, mengingat implikasinya yang luas bagi keamanan regional dan stabilitas ekonomi dunia.