Frankenstein45.Com – 18 Juni 2026 | Pada malam Galungan, ribuan umat Hindu di Bali kembali mengisi ruang suci Pura Agung Jagatnatha di Denpasar. Suasana lampu minyak menyala, mengukir bayangan pada arca‑arci yang megah, sementara para jemaah melantunkan mantra dan menyalakan sesajen sebagai persembahan kepada dewa‑dewi.
Upacara dimulai dengan prosesi membawa bendera suci (bendera Galungan) yang dibawa oleh para pemuka adat. Seluruh warga desa dan warga kota turut hadir, baik dalam balutan busana adat maupun pakaian modern, menandakan semangat kebersamaan yang tetap terjaga meski tantangan zaman terus berubah.
Beberapa rangkaian kegiatan tradisional yang berlangsung meliputi:
- Pembacaan lontar suci oleh para pendeta.
- Penyerahan sesajen ke dalam pura, meliputi buah‑buah tropis, kue tradisional, dan bunga melati.
- Penghormatan kepada patung-patung Dewa Siwa, Dewi Parwati, dan Dewa‑Dewi pelindung lainnya.
Setelah prosesi utama, para jemaah melanjutkan dengan tarian tradisional seperti Barong dan Legong yang dipentaskan di halaman pura. Musik gamelan mengalun mengiringi langkah tarian, menambah keagungan suasana.
Kehadiran warga tidak hanya terbatas pada warga Bali saja. Turis domestik dan mancanegara yang tertarik pada kebudayaan Hindu Bali turut menyaksikan perayaan, meski mereka diharapkan untuk menghormati tata cara dan tidak mengganggu prosesi keagamaan.
Penutup upacara diakhiri dengan penyalaan api suci (obor) yang melambangkan pencerahan spiritual serta harapan agar keseimbangan antara dunia manusia dan alam gaib tetap terjaga hingga tahun berikutnya.




