Frankenstein45.Com – 18 April 2026 | Beberapa hari belakangan ini sebuah video viral memperlihatkan seorang lansia di Kabupaten Lombok Barat yang tampak hidup sendirian di sebuah rumah sederhana. Meskipun terlihat masih bernyawa, catatan resmi dari Dinas Sosial setempat mencatatnya sebagai orang yang telah meninggal.
Penemuan data yang kontradiktif ini menimbulkan keprihatinan masyarakat dan memicu pertanyaan tentang akurasi basis data penduduk, terutama pada kelompok rentan seperti lansia.
Syamsuriansyah, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Lombok Barat dari Partai Perindo, menegaskan bahwa ketepatan data sosial menjadi kunci utama dalam penyaluran bantuan pemerintah. Ia menambahkan, “Jika data tidak akurat, bantuan tidak akan tepat sasaran dan justru menimbulkan kebingungan di lapangan.”
Berikut beberapa langkah yang diusulkan oleh legislator tersebut untuk memperbaiki data sosial:
- Mengadakan pendataan ulang secara periodik dengan melibatkan tokoh masyarakat setempat.
- Memanfaatkan teknologi digital, seperti aplikasi mobile, untuk mempercepat proses verifikasi data.
- Memberikan pelatihan bagi petugas pendataan agar memahami prosedur pencatatan yang benar.
- Mengintegrasikan data antar lembaga (Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan Kantor Desa) untuk menghindari duplikasi atau kesalahan entry.
Selain itu, Syamsuriansyah mengajak pemerintah provinsi dan pusat untuk meningkatkan alokasi anggaran bagi program pendataan dan memperkuat koordinasi antar instansi. Dengan data yang lebih akurat, diharapkan bantuan sosial, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan pangan, dapat sampai tepat kepada mereka yang membutuhkan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di era digital, kualitas data publik tidak boleh diabaikan. Ke depannya, harapan besar masyarakat Lombok Barat terletak pada perbaikan sistem pencatatan yang lebih transparan dan responsif.







