Wacana Reformasi Jilid 2 Dianggap Bukan Solusi, Pengamat Ingatkan Pasar Keuangan Sangat Sensitif
Wacana Reformasi Jilid 2 Dianggap Bukan Solusi, Pengamat Ingatkan Pasar Keuangan Sangat Sensitif

Wacana Reformasi Jilid 2 Dianggap Bukan Solusi, Pengamat Ingatkan Pasar Keuangan Sangat Sensitif

Frankenstein45.Com – 12 Juni 2026 | Munculnya wacana Reformasi Jilid 2 akhir-akhir ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir. Kenaikan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat serta penurunan indeks bursa menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar bahwa kebijakan fiskal tambahan mungkin tidak mampu menstabilkan kondisi ekonomi.

Reformasi Jilid 2, yang merupakan bagian lanjutan dari paket kebijakan ekonomi yang pertama kali diluncurkan pada 2022, mencakup langkah‑langkah seperti penyesuaian tarif pajak, penguatan belanja infrastruktur, serta pengaturan ulang kebijakan kredit. Meskipun tujuan utamanya adalah memperkuat daya saing dan mempercepat pemulihan pasca‑pandemi, banyak pihak menilai bahwa menambah beban fiskal pada saat nilai tukar lemah dan pasar saham bergejolak justru dapat memperparah tekanan inflasi dan arus modal keluar.

Pengamat pasar keuangan menegaskan bahwa pasar sangat sensitif terhadap sinyal kebijakan baru. Mereka mengingatkan bahwa setiap perubahan regulasi atau anggaran yang dianggap “ekspansif” dapat memicu penyesuaian cepat dari investor asing, yang pada gilirannya menurunkan likuiditas pasar dan memperlemah rupiah lebih lanjut.

Berikut data singkat pergerakan nilai tukar dan IHSG dalam tiga bulan terakhir:

Bulan Rupiah/USD IHSG (poin)
Januari 2024 14.800 6.300
Februari 2024 15.100 6.050
Maret 2024 15.350 5.880

Data tersebut menunjukkan tren pelemahan rupiah bersamaan dengan penurunan indeks bursa, yang menandakan ketidakstabilan pasar yang masih berlangsung.

Jika Reformasi Jilid 2 diterapkan secara terburu‑burui, potensi dampaknya antara lain: kenaikan inflasi karena biaya impor yang lebih tinggi, tekanan pada neraca perdagangan, serta penurunan kepercayaan investor asing. Di sisi lain, reformasi struktural yang terencana dengan baik—seperti peningkatan produktivitas, reformasi birokrasi, dan penguatan sektor ekspor—dapat menjadi pendorong pertumbuhan jangka panjang tanpa menambah beban fiskal yang berlebihan.

Para pengamat menyarankan agar pemerintah lebih memprioritaskan kebijakan moneter yang stabil, memperkuat cadangan devisa, dan memberikan sinyal yang jelas kepada pasar mengenai rencana fiskal jangka panjang. Dengan pendekatan yang hati‑hati, pasar keuangan dapat kembali memperoleh kepercayaan dan nilai tukar rupiah dapat terjaga dari fluktuasi berlebih.