Warga Indramayu Tanam Pohon Pisang, Protes Jalan Rusak yang Tak Teratasi
Warga Indramayu Tanam Pohon Pisang, Protes Jalan Rusak yang Tak Teratasi

Warga Indramayu Tanam Pohon Pisang, Protes Jalan Rusak yang Tak Teratasi

Frankenstein45.Com – 02 April 2026 | Warga di Kecamatan Indramayu, Jawa Barat, kembali menggelar aksi kreatif menuntut perbaikan infrastruktur jalan yang selama ini dibiarkan rusak. Pada Sabtu, 30 Maret 2026, sekitar dua ratus warga berkumpul di Jalan Raya Indramayu‑Kertasemaya dan menanam pohon pisang di bagian jalan yang berlubang lebar, sebagai simbol bahwa kondisi jalan semakin “menyerap” kehidupan masyarakat.

Latar Belakang Kerusakan

Jalan utama yang menghubungkan desa-desa di sekitar Indramayu telah mengalami keretakan sejak awal tahun 2025, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Lubang‑lubang besar muncul di beberapa titik, memaksa warga menggunakan kendaraan roda dua dengan hati‑hati atau beralih ke jalur alternatif yang menambah waktu tempuh hingga 30 menit. Masyarakat mengeluhkan kerusakan ini karena mengganggu mobilitas, menghambat distribusi hasil pertanian, serta menimbulkan risiko kecelakaan.

Aksi Penanaman Pohon Pisang

Menanggapi keluhan yang tidak kunjung direspon, kelompok warga yang dipimpin oleh Ketua RT 04, H. Ahmad Fauzi, memutuskan mengadakan aksi simbolis. “Kami menanam pisang karena akar pohon ini kuat menembus tanah, sebagaimana kami ingin pemerintah menancapkan solusi yang permanen,” ujar Fauzi saat memimpin penanaman.

Pohon pisang dipilih karena pertumbuhan cepatnya; dalam tiga minggu, bibit akan mulai menegak, menandakan bahwa masalah jalan tidak dapat dibiarkan terus berlarut. Sebanyak 50 bibit pisang dibawa dari kebun warga setempat, lalu ditanam di tiga lokasi kritis: persimpangan Jalan Indramayu‑Kertasemaya, dekat pasar tradisional, dan di depan balai desa.

Reaksi Pemerintah Daerah

Setelah aksi selesai, perwakilan Dinas Pekerjaan Umum (PUPR) Kabupaten Indramayu, Bapak Irwan Setiawan, datang ke lokasi. Ia menyampaikan bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk perbaikan jalan pada tahun anggaran 2026, namun proses tender masih dalam tahap finalisasi. “Kami menghargai kreativitas warga dan berkomitmen mempercepat perbaikan. Kami akan mengadakan pertemuan dengan kontraktor minggu depan,” kata Irwan.

Namun, warga menilai penjelasan tersebut belum cukup. “Kami sudah menunggu lebih dari satu tahun. Jika memang ada anggaran, mengapa belum ada aksi nyata di lapangan?” tanya Ibu Siti Nurhaliza, seorang petani setempat yang ikut menanam pisang.

Langkah Selanjutnya

  • Pengajuan permohonan perbaikan jalan secara resmi ke DPRD Kabupaten melalui surat terbuka.
  • Pembentukan tim monitoring warga yang akan mengawasi progres pekerjaan.
  • Kolaborasi dengan LSM lokal untuk menggalang dukungan media dan menambah tekanan pada pemerintah.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Kerusakan jalan tidak hanya mengganggu mobilitas, tetapi juga menurunkan nilai jual lahan pertanian. Petani melaporkan penurunan harga jual hasil panen karena biaya transportasi naik. Selain itu, kecelakaan lalu lintas di titik-titik kerusakan meningkat 12% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data kepolisian setempat.

Dengan menanam pisang, warga berharap dapat menarik perhatian media dan mempercepat alokasi dana. Sebagai tambahan, bibit pisang yang ditanam diperkirakan akan memberikan manfaat ekonomi jangka pendek, karena buah pisang dapat dipanen dalam tiga bulan, mendukung pendapatan tambahan bagi keluarga yang terlibat.

Meski aksi ini bersifat simbolis, semangat gotong‑royong tetap menguat. “Kami tidak akan menyerah sampai jalan kami kembali layak,” tutup Fauzi, menegaskan komitmen warga untuk terus menunggu tindakan konkret dari pihak berwenang.