Frankenstein45.Com – 07 Mei 2026 | Yogyakarta, 7 Mei 2026 – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengumumkan target ambisius untuk menata ulang infrastruktur telekomunikasi kota dengan menghilangkan kabel udara pada 193 ruas jalan utama. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan estetika, keselamatan, dan kenyamanan publik, sekaligus menurunkan risiko gangguan listrik yang sering terjadi akibat kabel yang tidak teratur.
Rencana tersebut merupakan bagian dari program “Kota Tanpa Kabel Udara” yang direncanakan selesai pada akhir 2026. Pemerintah kota bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) serta sejumlah perusahaan penyedia layanan telekomunikasi untuk memindahkan jaringan kabel ke dalam saluran underground atau menggunakan teknologi serat optik tersembunyi.
Strategi Pelaksanaan
Strategi utama meliputi tiga tahap. Pertama, identifikasi ruas‑ruas prioritas berdasarkan kepadatan lalu lintas, nilai estetika, dan tingkat kecelakaan yang melibatkan kabel. Kedua, penyiapan infrastruktur underground, termasuk penggalian, pemasangan conduit, dan penanaman serat optik. Ketiga, migrasi layanan ke jaringan baru tanpa mengganggu layanan publik.
- Identifikasi ruas: 193 ruas dipilih dari total 350 ruas utama di kota.
- Penggalian: Diperlukan 41 titik kerja strategis untuk mengoptimalkan proses.
- Monitoring: Penggunaan sistem GIS untuk memantau progres secara real‑time.
Dalam proses ini, Diskominfo DIY mencontohkan keberhasilan kota Bandung yang pada tahun 2026 berhasil menata 41 titik kabel udara yang semrawut. Bandung mengimplementasikan kebijakan serupa, memindahkan kabel ke dalam saluran underground dan mengoptimalkan estetika kota. Keberhasilan Bandung menjadi referensi penting bagi Yogyakarta dalam merencanakan skala yang lebih besar.
“Kami belajar dari pengalaman Bandung yang berhasil menata kabel udara secara terstruktur. Dengan menyesuaikan kondisi geografis dan kepadatan penduduk Yogyakarta, kami yakin target 193 ruas dapat tercapai tepat waktu,” ujar Bupati DIY, Dr. H. Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam konferensi pers di Balai Kartini.
Selain estetika, penghapusan kabel udara diharapkan meningkatkan keselamatan. Menurut data Dinas Perhubungan, kecelakaan kerja terkait kabel listrik menurun 12% di kota‑kota yang telah melakukan penataan serupa. Selain itu, risiko gangguan layanan internet akibat cuaca buruk dapat diminimalisir dengan infrastruktur underground yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Proyek ini diperkirakan menumbuhkan lapangan kerja sementara bagi sekitar 1.200 pekerja konstruksi, serta menciptakan peluang bagi perusahaan lokal dalam penyediaan material dan peralatan. Pemerintah daerah juga menyiapkan insentif bagi operator telekomunikasi yang berpartisipasi aktif dalam program, termasuk keringanan pajak daerah selama masa transisi.
Warga Yogyakarta menyambut baik inisiatif tersebut. “Kami berharap kota kami lebih bersih dan aman, terutama bagi anak‑anak yang bermain di jalan,” ujar Ibu Siti, seorang ibu rumah tangga dari kawasan Malioboro. Pendapat serupa juga terdengar dari pedagang kaki lima yang berharap penataan kabel dapat memperbaiki tampilan pasar tradisional.
Penggunaan teknologi GIS dan sistem monitoring berbasis cloud memungkinkan otoritas untuk melacak progres secara transparan. Data real‑time dapat diakses publik melalui portal resmi DIY, memperkuat akuntabilitas dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan proyek.
Dengan target ambisius ini, Yogyakarta menyiapkan diri menjadi contoh kota yang mengintegrasikan teknologi modern dalam perencanaan infrastruktur. Keberhasilan program tidak hanya akan meningkatkan kualitas visual kota, tetapi juga memperkuat jaringan telekomunikasi yang lebih handal dan tahan lama.
Jika semua tahapan berjalan sesuai rencana, Yogyakarta akan menjadi kota pertama di Indonesia yang berhasil menata ulang lebih dari 150 ruas jalan utama bebas kabel udara dalam satu periode, membuka jalan bagi replikasi program serupa di kota‑kota lain.
Dengan komitmen kuat dari pemerintah daerah, sektor swasta, serta partisipasi aktif warga, target 193 ruas jalan bebas kabel udara diyakini dapat tercapai, menjadikan Yogyakarta kota yang lebih modern, aman, dan estetis.




