Frankenstein45.Com – 26 April 2026 | Jepang mengumumkan pelepasan cadangan minyak strategis sebesar Rp58 triliun, setara dengan pasokan selama 20 hari, yang akan mulai berlaku pada 1 Mei. Langkah ini diambil sebagai antisipasi kemungkinan gangguan pasokan minyak lewat Selat Hormuz, jalur penyeluran utama bagi sekitar 20 % produksi minyak dunia.
Selat Hormuz terletak antara Teluk Persia dan Teluk Oman, dan menjadi titik krusial bagi transportasi energi global. Ketegangan geopolitik di wilayah tersebut—termasuk perselisihan antara Iran dan negara‑negara Barat—sering menimbulkan kekhawatiran akan gangguan aliran minyak.
Sebagai negara dengan tingkat ketergantungan impor energi yang tinggi, Jepang berupaya menjaga stabilitas pasokan dan mengurangi volatilitas harga. Pelepasan cadangan ini memungkinkan pemerintah untuk menambah likuiditas pasar domestik serta memberikan ruang bagi perusahaan energi dalam menyesuaikan kontrak pembelian.
Berikut rincian cadangan yang dilepas:
| Hari Cadangan | Nilai (Triliun Rp) | Volume (juta barrel) |
|---|---|---|
| 20 | 58 | ≈1,200 |
Dengan nilai sekitar Rp58 triliun, cadangan ini setara dengan sekitar 1,200 juta barrel minyak mentah, yang cukup untuk menutupi kebutuhan energi domestik selama tiga minggu penuh.
Langkah ini diperkirakan akan menahan lonjakan harga minyak internasional pada saat pasar menanggapi potensi gangguan. Selain itu, keputusan Jepang dapat memberi sinyal kepada negara‑negara lain untuk menyiapkan kebijakan serupa, memperkuat koordinasi keamanan energi regional.
Reaksi internasional beragam. Beberapa negara produsen mengamati kebijakan Jepang dengan cermat, sementara para analis pasar menilai langkah ini sebagai upaya proaktif yang dapat menstabilkan pasar dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, pelepasan cadangan minyak ini mencerminkan strategi ketahanan energi Jepang dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik, khususnya di Selat Hormuz, serta menegaskan komitmen negara tersebut untuk menjaga kelancaran pasokan energi nasional.




