Frankenstein45.Com – 23 April 2026 | Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menjadi panggung utama bagi ribuan calon mahasiswa yang menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Dari subuh hingga sore, kampus dipenuhi suasana campur aduk: orang tua yang menunggu dengan harapan, peserta yang berjuang melawan rasa gugup, serta kisah inspiratif alumnus yang membuktikan nilai pendidikan tinggi di UNJ.
Suasana di Pusat Pelaksanaan UTBK UNJ
Sejak 21 April 2026, UNJ membuka 10 ruang ujian yang dilengkapi dengan komputer berkecepatan tinggi dan jaringan internet stabil. Pada hari kedua, 22 April, para peserta mulai berdatangan. Sesi pertama dimulai pukul 06.45‑10.30 WIB, diikuti sesi kedua pukul 12.30‑16.45 WIB. Di luar gedung, panitia menyiapkan tenda dan area istirahat bagi orang tua yang menunggu. Beberapa orang tua bahkan tidur di tenda atau menghabiskan waktu dengan ponsel, mengingat durasi ujian mencapai tiga jam.
Kisah Orang Tua yang Menanti Anak di UNJ
Sutoyo, seorang warga Jakarta Timur berusia 59 tahun, menunggu anaknya yang mengikuti tes jurusan Biologi Murni dan Pendidikan Biologi. “Harapannya lolos, karena khawatir kalau kuliah ke luar kota, anak satu‑satunya, ibunya juga tidak mengizinkan,” ujarnya sambil memantau jam. Sutoyo menyebut bahwa setelah gagal lewat jalur prestasi, anaknya semakin giat mengikuti try‑out, bahkan dua kali sehari.
Rahmat Fuadi (48) dari Bekasi mengaku kasihan melihat tekanan pada anaknya yang berada di pondok pesantren Bogor. Ia berharap anaknya dapat masuk jurusan kesehatan di Unpad atau Farmasi di ITB. Karena berada di pesantren, anaknya harus meminta izin khusus untuk mengikuti tes di UNJ.
Ari (45) dan Dwi (40), orang tua peserta sesi pertama, berangkat subuh dari Cawang. Mereka menekankan pentingnya mendampingi anak secara langsung: “Kami wiraswasta, jadi bisa nyempetin waktu. Kasihan kalau pakai angkutan umum,” kata Ari. Hartini (53), orang tua peserta sesi kedua, mengakui kecemasan yang tetap ada meski lokasinya dekat kantor. Ia bahkan harus mengandalkan KTP di ponsel setelah tasnya tertinggal.
Pengalaman Langsung Peserta UTBK di UNJ
Naila Nirwana (19) dan Nailah Maharani (19) tiba di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB menjelang sesi kedua. Keduanya mengaku baru berteman pada hari itu dan sama‑sama memilih bidang ekonomi: Naila menargetkan akuntansi di Universitas Indonesia, sementara Nailah mengincar manajemen di UNJ. Kedua siswa mengatakan bahwa pada hari H mereka tidak lagi belajar, melainkan berdoa dan menenangkan diri.
Septiliyna Nurhaliza (19), peserta sesi pertama, mengaku mengalami kesulitan pada soal penalaran matematika (PK dan PM). “Saya lemah di hitung‑hitungan,” ujarnya, namun tetap optimis menunggu hasil. Lyna, peserta lain yang menargetkan psikologi, menilai fasilitas UNJ sangat memuaskan: komputer lancar, internet stabil, dan panitia responsif.
Kisah Sukses Alumni UNJ: Abdul Muin, Wisudawan Terbaik FISH
Di tengah hiruk‑pikuk UTBK, UNJ juga merayakan prestasi alumnus. Abdul Muin, putra petani, dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Program Magister Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) dengan IPK 3,87 pada wisuda 15 April 2026. Ia menekankan bahwa keberhasilan tidak lepas dari doa ibunya yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Tesisnya mengangkat indikator sumber daya alam untuk pembangunan desa berkelanjutan di Lebak, Banten, menunjukkan komitmen akademik yang selaras dengan akar desa.
Keberhasilan Muin menjadi contoh konkret bagi calon mahasiswa yang menunggu hasil UTBK: pendidikan tinggi di UNJ tidak hanya memberikan gelar, tetapi juga peluang untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Kesimpulan
UTBK SNBT 2026 di UNJ memperlihatkan dinamika unik antara harapan orang tua, ketegangan peserta, dan kebanggaan institusi atas prestasi alumnus. Dari subuh yang penuh kecemasan hingga sore yang menandai akhir ujian, UNJ membuktikan kapasitasnya dalam menyelenggarakan tes berskala nasional dengan fasilitas memadai. Bagi ribuan calon mahasiswa, momen ini bukan sekadar ujian akademik, melainkan titik tolak untuk mewujudkan impian, baik melanjutkan studi di perguruan tinggi impian maupun mengikuti jejak alumni yang berhasil mengubah latar belakang sederhana menjadi prestasi gemilang.




