Frankenstein45.Com – 01 Juli 2026 | Tim Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) melaksanakan evakuasi medis pada Selasa, 30 Juni, dengan mengevakuasi tiga puluh pasien dari wilayah Gaza ke perbatasan Rafah. Operasi ini dilakukan sebagai respons atas krisis kesehatan yang semakin parah di Gaza, dimana fasilitas medis mengalami kekurangan obat, tenaga medis, dan infrastruktur akibat blokade yang berlangsung.
Pasien yang dievakuasi terdiri atas wanita hamil, anak-anak dengan penyakit kronis, serta orang tua yang membutuhkan perawatan intensif yang tidak tersedia di rumah sakit setempat. Berikut adalah profil singkat pasien yang terlibat:
- 10 wanita hamil pada trimester akhir
- 8 anak-anak dengan kondisi seperti asma berat dan kanker
- 6 orang tua dengan penyakit jantung atau diabetes komplikasi
- 4 pasien dengan luka bakar serius akibat serangan
- 2 pasien dengan kondisi neurologis kritis
Evakuasi dipimpin oleh komandan PRCS, Ahmad Al‑Khatib, yang menjelaskan bahwa tim medis menggunakan ambulans yang dilengkapi dengan peralatan ventilasi darurat dan obat-obatan penting. Selama perjalanan, pasien dipantau secara kontinu oleh dokter dan perawat yang berada di dalam kendaraan.
Koordinasi dengan Badan PBB untuk Koordinasi Bantuan Kemanusiaan (OCHA) serta otoritas Mesir memastikan bahwa pasien dapat melintasi pos perbatasan Rafah dan melanjutkan perawatan di rumah sakit di Mesir. Proses pemeriksaan di pos perbatasan meliputi verifikasi dokumen medis, pemeriksaan kesehatan singkat, dan penandatanganan formulir persetujuan.
Berikut rangkuman data evakuasi:
| Kategori Pasien | Jumlah |
|---|---|
| Wanita hamil | 10 |
| Anak-anak | 8 |
| Orang tua | 6 |
| Luka bakar | 4 |
| Neurologis | 2 |
Setelah melewati pos perbatasan, pasien dibawa ke rumah sakit di kota Al-Arish dan kemudian dipindahkan ke fasilitas perawatan lanjutan di Alexandria dan Kairo, di mana mereka menerima perawatan yang lebih lengkap, termasuk operasi dan terapi intensif.
Pengamat kesehatan menilai bahwa evakuasi ini menjadi contoh penting bagaimana kerja sama lintas batas dapat menyelamatkan nyawa meski dalam kondisi konflik berkepanjangan. Namun, mereka menekankan bahwa kebutuhan akan evakuasi berkelanjutan tetap tinggi, mengingat banyak pasien lain yang masih terperangkap tanpa akses ke layanan medis yang memadai.




