Frankenstein45.Com – 29 April 2026 | Musim hujan di Provinsi Kalimantan Tengah masih memperlihatkan curah yang berfluktuasi, namun para pakar meteorologi mengingatkan bahwa fenomena El Nino yang diprediksi lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 belum tentu akan menghilang begitu saja. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa durasi musim kemarau tahun ini dapat memperpanjang hingga empat bulan, jauh melampaui pola historis.
Prediksi Musim Kemarau 2026 di Kalteng
Menurut prakiraan BMKG yang disampaikan oleh Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, musim kemarau 2026 di wilayah Kalimantan Tengah diperkirakan berlangsung dalam rentang 10 sampai 13 dasarian (sepuluh harian). Puncak kemarau diproyeksikan terjadi pada bulan Juli hingga Agustus 2026, bersamaan dengan munculnya El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua.
Fenomena El Nino diperkirakan akan menurunkan intensitas curah hujan dan meningkatkan suhu udara di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalteng. Dampaknya tidak hanya terasa pada sektor pertanian, tetapi juga pada tingkat kelembapan hutan yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Transisi Musim Hujan ke Kemarau
April‑Mei 2026 masih berada dalam fase transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Pada fase ini, pola curah hujan belum stabil; hujan masih turun secara sporadis namun tidak cukup untuk mengimbangi evaporasi yang meningkat. Pakar BMKG menegaskan bahwa meski hujan masih turun, tidak dapat dijadikan patokan bahwa musim hujan masih berlanjut secara penuh.
Risiko Kebakaran dan Kekeringan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng, Ahmad Toyib, mengingatkan bahwa risiko kebakaran hutan pada tahun 2026 diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Musim kemarau yang diperkirakan mulai akhir Mei 2026 dengan kondisi lebih kering serta curah hujan di bawah normal meningkatkan potensi terjadinya karhutla.
Meski demikian, pengalaman penanggulangan kebakaran pada El Nino moderat tahun 2023 menunjukkan bahwa sinergi antar‑lembaga, deteksi dini, dan respons cepat dapat menekan dampak kebakaran secara signifikan. Program pengendalian yang diperkuat, termasuk patroli udara dan penyuluhan kepada masyarakat, diharapkan tetap efektif pada 2026.
Dampak Ekonomi dan Sosial
- Penurunan produksi pertanian, khususnya padi dan jagung, akibat kurangnya curah hujan.
- Peningkatan biaya operasional bagi petani yang harus mengandalkan irigasi buatan.
- Potensi gangguan pada transportasi sungai karena penurunan level air.
- Ancaman kesehatan masyarakat akibat asap kebakaran yang dapat mencemari udara.
Upaya Mitigasi Pemerintah
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah mengintensifkan program mitigasi, antara lain dengan meningkatkan penyuluhan tentang teknik konservasi tanah, memperluas jaringan monitoring kebakaran, serta menyiapkan stok bantuan pangan bagi warga yang terdampak kekeringan. Koordinasi dengan BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, serta lembaga non‑pemerintah juga menjadi fokus utama.
Secara keseluruhan, meskipun hujan masih turun di beberapa wilayah, indikator meteorologis menunjukkan bahwa El Nino belum sepenuhnya “batal”. Prediksi BMKG mengindikasikan musim kemarau yang lebih panjang, suhu lebih tinggi, dan curah hujan menurun. Kombinasi faktor tersebut menuntut kesiapan lintas sektor untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan kebakaran hutan. Pemerintah daerah, bersama dengan masyarakat, diharapkan dapat memanfaatkan pelajaran dari kejadian sebelumnya guna memperkuat sistem peringatan dini dan respons cepat, sehingga konsekuensi lingkungan dapat diminimalkan.




