Frankenstein45.Com – 13 Mei 2026 | Menjelang akhir tahun 2023, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lukman, mengumumkan bahwa Indonesia akan melakukan impor listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) milik Malaysia untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayah Kalimantan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional serta memanfaatkan potensi lintas‑border yang tersedia.
Di samping impor listrik, Menteri ESDM menambahkan rencana strategis lain, yaitu integrasi jaringan transmisi listrik Filipina ke dalam sistem Trans‑Borneo. Proyek Trans‑Borneo, yang meliputi jaringan transmisi lintas pulau di Kalimantan, dirancang untuk menghubungkan pulau‑pulau utama di Indonesia dengan negara‑negara ASEAN. Integrasi jaringan Filipina diharapkan dapat menciptakan aliran listrik yang lebih fleksibel, memungkinkan pertukaran energi antara ketiga negara serta meningkatkan keamanan pasokan.
Berikut beberapa poin penting terkait inisiatif tersebut:
- Impor listrik dari Malaysia: Menggunakan sumber energi terbarukan (hidro) yang ramah lingkungan.
- Manfaat bagi Kalimantan: Mengurangi risiko pemadaman, mendukung pertumbuhan industri, dan meningkatkan kualitas layanan listrik.
- Trans‑Borneo: Proyek jaringan transmisi berkapasitas tinggi yang menghubungkan Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
- Integrasi Filipina: Memungkinkan pertukaran listrik lintas negara, memperluas pasar energi regional.
- Target jangka panjang: Mencapai kemandirian energi, meningkatkan penggunaan energi terbarukan, dan memperkuat kerja sama ASEAN di bidang energi.
Para ahli energi menilai bahwa langkah ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk menurunkan intensitas karbon dan meningkatkan kontribusi energi terbarukan dalam bauran energi nasional. Namun, tantangan teknis seperti sinkronisasi jaringan, standar keamanan, dan regulasi lintas negara masih perlu diselesaikan secara intensif.
Dengan implementasi impor listrik dan integrasi jaringan transmisi regional, pemerintah berharap dapat memperkuat ketahanan energi, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta mempercepat transisi menuju energi bersih di kawasan Asia Tenggara.




