Iran Ungkap Alasan Dua Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz: Blokade AS dan Tekanan Operasional Mengguncang Rantai Pasokan
Iran Ungkap Alasan Dua Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz: Blokade AS dan Tekanan Operasional Mengguncang Rantai Pasokan

Iran Ungkap Alasan Dua Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz: Blokade AS dan Tekanan Operasional Mengguncang Rantai Pasokan

Frankenstein45.Com – 28 April 2026 | Iran pada Rabu (28 April) mengumumkan alasan utama mengapa dua kapal tanker milik Pertamina Indonesia belum dapat melintasi Selat Hormuz, selat strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Menurut pejabat maritim Tehran, penundaan tersebut disebabkan oleh kombinasi blokade militer Amerika Serikat, tekanan operasional di pelabuhan utama Iran, serta risiko keamanan yang terus meningkat setelah serangkaian insiden militer di wilayah tersebut.

Latar Belakang Ketegangan di Selat Hormuz

Selat Hormuz telah menjadi arena konfrontasi antara Washington dan Tehran sejak awal tahun 2024. Pemerintah Amerika Serikat, melalui United States Central Command dan Armada Kelima, menerapkan blokade laut yang membatasi keluar‑masuk barang, termasuk energi dan senjata, ke pelabuhan Iran. Blokade ini dipertahankan meskipun terdapat gencatan senjata sementara yang disepakati pada pertengahan April.

Satelit terbaru yang dirilis oleh perusahaan intelijen maritim Windward menampilkan antrean panjang kapal tanker minyak Iran di Pulau Kharg, titik keberangkatan lebih dari 90 % ekspor minyak mentah Tehran. Antrean tersebut mencakup setidaknya delapan kapal tanker besar yang menunggu slot muat, menandakan tekanan infrastruktur yang signifikan.

Pernyataan Resmi Iran tentang Tanker Pertamina

Juru bicara Kementerian Perhubungan Laut Iran menyatakan bahwa dua kapal tanker milik Pertamina Indonesia—MV Pertamina A dan MV Pertamina B—telah diarahkan ke pelabuhan Kharg untuk pengisian minyak, namun tidak diizinkan berlayar karena “kondisi keamanan yang tidak menentu”. Ia menambahkan bahwa keberadaan ranjau laut, drone, dan potensi serangan rudal dari Korps Garda Revolusi (IRGC) membuat navigasi di perairan selat sangat berisiko.

“Kami menolak segala tindakan yang dapat mengancam keselamatan awak kapal dan muatan. Hingga situasi di Selat Hormuz stabil, kapal-kapal asing termasuk milik Indonesia harus menunggu instruksi selanjutnya,” ujar juru bicara tersebut.

Dampak pada Ekspor Minyak Indonesia

Pertamina, perusahaan energi terbesar Indonesia, mengandalkan rute Hormuz untuk menyalurkan produk minyak ke pasar Timur Tengah dan Eropa. Penundaan dua tanker ini diperkirakan menunda pengiriman sekitar 300 000 barel per hari, yang dapat menambah tekanan pada harga domestik dan menurunkan volume ekspor nasional.

  • Volume ekspor minyak Indonesia pada kuartal pertama 2024 mencapai 2,5 juta barel per hari, turun 4 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
  • Penundaan pengiriman melalui Hormuz dapat menambah defisit perdagangan energi sekitar US$ 500 juta per bulan.
  • PT Pertamina telah mengalihkan sebagian muatan ke rute alternatif melalui Selat Malaka, namun biaya operasional naik hingga 15 %.

Analisis Ahli dan Prospek Ke Depan

Pak

ar geopolitik Universitas Indonesia, Dr. Rudi Hartono, menilai bahwa “blokade AS bukan sekadar tekanan ekonomi, melainkan upaya strategis untuk memaksa Iran menurunkan ambisi nuklirnya. Akibatnya, kapal tanker asing, termasuk milik Pertamina, menjadi korban sampingan.” Ia menambahkan bahwa sampai ada dialog diplomatik yang lebih konstruktif, risiko penahanan atau penundaan kapal akan tetap tinggi.

Sementara itu, analis maritim internasional memperkirakan bahwa jika ketegangan tidak mereda dalam tiga sampai enam bulan ke depan, antrean kapal tanker di Pelabuhan Kharg dapat meningkat 30 %, memperpanjang waktu tunggu rata‑rata menjadi lebih dari dua minggu per kapal.

Dengan kondisi yang masih belum pasti, Pertamina berkomitmen untuk terus memantau situasi dan bekerja sama dengan otoritas maritim Indonesia serta pihak internasional demi memastikan keselamatan awak kapal dan kelancaran distribusi energi nasional.

Secara keseluruhan, kombinasi blokade militer AS, infrastruktur terbatas di pelabuhan Iran, dan ancaman keamanan di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang membuat dua tanker Pertamina belum dapat melintasi selat tersebut. Penyelesaian diplomatik yang melibatkan semua pihak menjadi harapan utama untuk mengembalikan arus perdagangan minyak ke jalur yang lebih aman dan efisien.