Italia Gagal ke Piala Dunia 2026: Gravina Mundur, Gattuso Disalahkan? Semua Fakta di Balik Kejatuhan Azzurri
Italia Gagal ke Piala Dunia 2026: Gravina Mundur, Gattuso Disalahkan? Semua Fakta di Balik Kejatuhan Azzurri

Italia Gagal ke Piala Dunia 2026: Gravina Mundur, Gattuso Disalahkan? Semua Fakta di Balik Kejatuhan Azzurri

Frankenstein45.Com – 14 April 2026 | Timnas Italia resmi absen dari Piala Dunia 2026 setelah kalah dramatis melawan Bosnia-Herzegovina dalam adu penalti pada final play‑off zona Eropa. Kekalahan ini menandai ketiga kali berturut‑turut Italia tidak lolos sejak 2010, menambah deretan rekor buruk yang menekan federasi sepak bola Italia (FIGC). Di tengah gelombang kritikan, Presiden FIGC Gabriele Gravina mengumumkan pengunduran diri pada 2 April 2026, hanya dua hari setelah kekalahan menyakitkan.

Kegagalan di Bilino Polje

Pertandingan berlangsung di Stadion Bilino Polje, Zenica, dengan skor akhir 1‑1 setelah perpanjangan waktu. Italia unggul lebih dulu lewat gol Moise Kean pada menit ke‑15, namun Bosnia menyamakan kedudukan lewat gol Haris Tabaković pada menit ke‑79. Pada adu penalti, Italia gagal mengeksekusi tendangan kunci, termasuk kegagalan Pio Esposito, yang memicu sorotan media tentang ketenangan mental pemain.

Gravina Mundur: Tindakan Cinta Terakhir

Gabriele Gravina menegaskan pengunduran dirinya sebagai “tindakan cinta terakhir” untuk melindungi FIGC dari badai kritik yang terus menguat. Meski mengundurkan diri, ia tetap menjalankan tugas administratif hingga 22 Juni 2026, hari pemilihan presiden baru. Gravina menilai bahwa kegagalan bukan hanya tanggung jawab satu orang, melainkan hasil kombinasi faktor teknis, kebugaran pemain, dan keputusan taktis yang diambil dalam waktu singkat.

Gattuso: Pelatih Siap, Pemain Belum

Dalam wawancara dengan Corriere della Sera, Gravina memuji Gennaro Gattuso, yang menjabat sejak Juni 2025. Ia menyebut Gattuso “pelatih yang sangat siap dan pribadi yang luar biasa”. Menurut Gravina, Gattuso berhasil menanamkan semangat pada skuad dalam masa persiapan yang terbatas, namun performa pemain tidak konsisten. Beberapa pemain utama datang dengan cedera atau tampil di bawah ekspektasi pada pertandingan krusial.

Masalah Internal FIGC

Kegagalan kualifikasi juga memicu pergantian di jajaran kepemimpinan. Gianluigi Buffon, yang menjabat Ketua Delegasi Timnas Italia, mengundurkan diri bersamaan dengan Gravina. Keputusan ini membuka ruang bagi reformasi struktural dalam federasi, termasuk peninjauan sistem pengembangan pemain muda dan insentif bagi akademi.

Langkah Selanjutnya

Pemilihan presiden FIGC dijadwalkan pada 22 Juni 2026. Presiden terpilih nantinya dihadapkan pada tugas utama menggantikan Gattuso, memperbaiki mekanisme pembinaan pemain, serta menyiapkan strategi jangka panjang agar Italia kembali kompetitif di kancah internasional. Gravina menyinggung usulan mantan pelatih Luciano Spalletti tentang pemberian kesempatan bermain bagi pemain U‑19 di Serie A, namun menilai hal tersebut sulit diterapkan secara hukum. Ia lebih menekankan pada kebijakan insentif fiskal bagi akademi muda.

Secara keseluruhan, kegagalan Italia menyoroti ketegangan antara harapan publik, kualitas pemain, dan kebijakan federasi. Sementara Gattuso menerima pujian atas usaha singkatnya, tekanan untuk menemukan solusi struktural tetap tinggi. Dunia sepak bola menanti keputusan FIGC selanjutnya, yang diprediksi akan menentukan arah masa depan Azzurri dalam upaya kembali ke panggung Piala Dunia.

Dengan pengunduran diri Gravina, pemilihan presiden baru, dan pertanyaan besar tentang manajemen pemain, Italia berada di persimpangan penting. Hanya waktu yang akan menjawab apakah reformasi yang direncanakan mampu mengembalikan kejayaan sepak bola Italia.