Kemendukbangga Perkuat Penataan MBG 3B dengan Dukungan TPK
Kemendukbangga Perkuat Penataan MBG 3B dengan Dukungan TPK

Kemendukbangga Perkuat Penataan MBG 3B dengan Dukungan TPK

Frankenstein45.Com – 12 Juni 2026 | Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat penataan Program Makan Bergizi 3B (MBG 3B). Upaya ini difasilitasi oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang akan memberikan dukungan teknis dan operasional di lapangan.

Program MBG 3B bertujuan meningkatkan asupan gizi anak usia 0‑6 tahun serta ibu hamil dan menyusui melalui pola makan seimbang. Dengan penataan yang lebih terstruktur, diharapkan capaian gizi nasional dapat meningkat signifikan dalam jangka menengah.

Fokus utama penataan MBG 3B meliputi:

  • Pemetaan wilayah prioritas berdasarkan indikator gizi buruk.
  • Peningkatan kapasitas TPK melalui pelatihan modul gizi dan manajemen program.
  • Penguatan koordinasi antara dinas kesehatan, dinas sosial, dan lembaga lokal.
  • Penyediaan bahan pangan bergizi melalui kerjasama dengan penyedia lokal.
  • Monitoring dan evaluasi berbasis data digital untuk mengidentifikasi hambatan secara cepat.

Tim Pendamping Keluarga (TPK) akan berperan sebagai penghubung antara keluarga penerima manfaat dan layanan kesehatan. Tugas utama TPK meliputi:

  1. Memberikan edukasi gizi langsung kepada orang tua.
  2. Memfasilitasi distribusi paket makanan bergizi.
  3. Mengumpulkan data pemantauan pertumbuhan anak.
  4. Menyusun laporan bulanan untuk evaluasi program.

Anggaran yang dialokasikan untuk fase awal penataan ini diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah, mencakup biaya pelatihan, logistik, serta sistem informasi gizi. Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting sebesar 10 persen dan peningkatan status gizi baik pada anak balita dalam tiga tahun ke depan.

Implementasi akan dimulai pada kuartal kedua tahun ini, dengan fokus pilot di provinsi dengan indikator gizi terburuk. Hasil evaluasi pilot akan dijadikan dasar ekspansi ke seluruh Indonesia.