Frankenstein45.Com – 09 April 2026 | Rabu malam, 1 April 2026, Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) yang berlokasi di Jalan Cinyosog, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi, meledak hebat setelah diduga terjadi kebocoran gas yang tersulut korsleting listrik. Ledakan tersebut menimbulkan api yang cepat menyebar, memaksa tim pemadam kebakaran melakukan pendinginan intensif di area permukiman sekitar.
Insiden itu langsung menewaskan dua orang petugas keamanan SPBE, Jaimun (62 tahun) dan Suyadi (63 tahun), yang mengalami luka bakar hampir 100 persen. Kedua korban pertama dinyatakan meninggal dunia pada 5 dan 6 April 2026 setelah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bekasi. Pada 7 April 2026, seorang pelajar bernama Sapta Prihantono, kelas X SMK Negeri 15 Bekasi, juga menghembuskan napas terakhir akibat luka bakar 63 persen. Empat hari kemudian, pada 9 April 2026, Aulia Putri Budiastuti, kakak dari Sapta, meninggal dunia setelah dirawat di RSUD Cibitung dengan luka bakar serupa.
Hingga 9 April, total korban luka meningkat menjadi 22 orang yang dilarikan ke berbagai rumah sakit, antara lain RSUD Cibitung, Rumah Sakit Citra Arrafiq, dan Rumah Sakit Primaya Bekasi Timur. Sebagian besar pasien mengalami luka bakar di atas 50 persen, dengan beberapa kasus mencapai 92‑97 persen. Tim medis melaporkan bahwa penanganan luka bakar berat memerlukan perawatan luka intensif, terapi cairan, dan rehabilitasi jangka panjang.
Kerusakan fisik tidak hanya terbatas pada fasilitas SPBE. Empat belas bangunan di sekitar lokasi, termasuk rumah warga dan toko, mengalami kerusakan serius. Empat bangunan paling parah harus dibongkar total karena struktur mereka tidak lagi aman. Pemerintah Kota Bekasi bersama Dinas Penanggulangan Bencana menginisiasi evakuasi sementara bagi warga yang tinggal di zona berbahaya.
Penyelidikan awal yang dipimpin oleh Pelaksana Tugas Kadisdamkarmat Kota Bekasi, Heryanto, mengidentifikasi dua faktor pemicu utama: kebocoran gas di dalam tangki penyimpanan dan arus pendek pada instalasi listrik sekitar SPBE. Seorang saksi mata melaporkan bau gas kuat sebelum ledakan, sementara tim penyelidik menemukan jejak korsleting pada panel listrik yang berada di dekat area penyimpanan gas.
Respons resmi datang dari pihak Pertamina Patra Niaga, pemilik mitra swasta yang mengoperasikan SPBE. Susanto August Satria, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Regional JBB, menyampaikan permintaan maaf resmi dan menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung perusahaan. Selain itu, Pertamina berjanji akan melakukan audit keselamatan menyeluruh pada semua fasilitas SPBE di wilayah Jawa Barat dan meningkatkan standar inspeksi gas serta listrik.
- Camat Mustika Jaya, Maka Nachrowi, mengonfirmasi jumlah korban meninggal kini empat orang dan total korban luka 22 orang.
- Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, menambahkan bahwa pemerintah kota akan mengundang manajemen PT Indogas Andalan Kita serta Pertamina untuk membahas standar keselamatan dan tanggung jawab operasional.
- Pemerintah provinsi Jawa Barat akan menyiapkan bantuan sosial bagi keluarga korban yang kehilangan anggota keluarga utama.
Langkah-langkah pemulihan mencakup penempatan korban di rumah sakit terdekat, penyediaan perawatan luka bakar tingkat tinggi, serta konseling psikologis bagi warga yang trauma. Pemerintah kota juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mempercepat proses rehabilitasi lingkungan dan pembangunan kembali rumah-rumah yang rusak.
Secara keseluruhan, tragedi ledakan SPBE Cimuning menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap instalasi gas dan listrik di fasilitas publik. Dengan empat nyawa melayang dan puluhan warga terluka, kejadian ini menjadi panggilan serius bagi otoritas untuk meninjau ulang prosedur keamanan, meningkatkan pelatihan bagi petugas, serta memastikan bahwa standar operasional tidak lagi terabaikan. Diharapkan, langkah-langkah korektif yang diambil akan mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.




